Southampton, Inggris - Manajer Southampton, Tonda Eckert, secara resmi meminta maaf setelah klubnya tersandung skandal mata-mata yang berujung pada hukuman berat. Klub Championship itu diusir dari babak playoff promosi ke Premier League karena kedapatan mengintai sesi latihan lawan, Middlesbrough.
Dalam pernyataan video yang dirilis Selasa (18/3), Eckert mengaku bertanggung jawab penuh atas insiden yang disebut 'Spygate' ini. “Saya menyesali semua yang terjadi. Sebagai pelatih kepala, saya bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi di klub ini,” ujarnya, mengutip pernyataan resmi klub.
Komisi disiplin English Football League (EFL) menyebut tindakan ini sebagai 'rencana curang dari atas ke bawah' untuk meraih keuntungan kompetitif. Selain diusir dari final playoff, Southampton juga mendapat pengurangan empat poin untuk musim 2026-2027.
Menariknya, pemilik klub Dragan Solak memastikan tidak akan memecat Eckert. Keputusan ini kontras dengan ekspektasi banyak pihak yang mengira manajer asal Jerman itu akan dipecat.
Analisis Dampak: Skandal ini membuka kotak pandora tentang praktik mata-mata di sepak bola Inggris. Jika biasanya kasus seperti ini hanya berujung denda, hukuman berat seperti pengusiran dari kompetisi menjadi preseden baru. Bagi Southampton, selain kehilangan potensi pendapatan hingga 200 juta poundsterling (Rp 4 triliun), reputasi klub tercoreng. Sementara bagi Middlesbrough yang diuntungkan, mereka tetap gagal promosi setelah kalah di final dari Hull City.