Peru kembali menggelar pemilihan presiden putaran kedua pada Minggu, 7 Juni, setelah putaran pertama pada 12 April lalu diwarnai kekacauan, tuduhan kecurangan, dan protes. Lebih dari 20 juta warga Peru, termasuk yang tinggal di luar negeri, diwajibkan memberikan suara atau dikenakan denda.
Dua kandidat yang bertarung sengit adalah Keiko Fujimori dari kubu kanan dan Roberto Sanchez dari kiri. Fujimori, putri mantan Presiden Alberto Fujimori yang kontroversial, sudah empat kali menjadi finalis pilpres. Ia mengusung misi ketertiban. Sementara Sanchez, anggota kongres dan mantan menteri, harus berjuang keras setelah nyaris tersingkir di putaran pertama dan kini menghadapi tuntutan hukum terkait pendanaan kampanye yang ia bantah.
Putaran pertama pada April lalu kacau balau. Ribuan surat suara terlambat tiba, tempat pemungutan suara (TPS) buka telat, dan sekitar 52.000 orang tak bisa mencoblos. Akibatnya, pihak berwenang memperpanjang waktu pemungutan suara di beberapa daerah, termasuk ibu kota Lima dan lokasi di luar negeri. Hasil akhir baru diumumkan pertengahan Mei setelah otoritas pemilu meninjau hampir 15.000 surat suara yang disengketakan.
Pemilu Peru memang rawan gejolak. Dalam satu dekade terakhir, sembilan presiden berbeda memerintah, sebagian besar terpaksa mundur atau dimakzulkan. Analis menilai ketidakstabilan ini mengkhawatirkan karena memperlemah kepercayaan publik pada demokrasi dan menghambat pembangunan ekonomi. Situasi serupa juga terjadi di negara tetangga seperti Bolivia dan Ekuador, menunjukkan tren krisis politik di kawasan Amerika Latin.