Mikaela Shiffrin, ratu ski Amerika Serikat, kembali menorehkan sejarah di panggung Olimpiade. Setelah delapan tahun menanti, ia sukses meraih medali emas di nomor slalom putri dalam Olimpiade Musim Dingin yang berlangsung di Tofane, Cortina, Italia. Kemenangan ini bukan sekadar medali, melainkan sebuah penebusan manis bagi Shiffrin dan tim ski AS, yang sebelumnya sempat diliputi kekecewaan.
Dengan penampilan luar biasa, Shiffrin mencatat waktu gabungan tercepat 1 menit 39,10 detik. Ia unggul telak 1,50 detik dari juara dunia Camille Rast dari Swiss yang meraih perak, disusul Anna Swenn Larsson dari Swedia yang membawa pulang perunggu, medali Olimpiade pertamanya. Keunggulan signifikan sejak run pertama menjadi kunci dominasi atlet berusia 30 tahun ini, memastikan ia melaju mulus menuju podium tertinggi.
Medali emas ini menjadi yang keempat bagi Shiffrin sepanjang karier Olimpiadenya, dan yang ketiga berupa emas. Lebih dari itu, kemenangan ini menghapus bayang-bayang kegagalan di Olimpiade Beijing sebelumnya, di mana ia pulang tanpa medali, serta performa kurang memuaskan di awal perhelatan di Cortina ini. Shiffrin memang datang sebagai favorit kuat, didukung rekor fantastis 108 kemenangan di Piala Dunia, mengukuhkan dirinya sebagai salah satu atlet ski paling dominan di era modern.
Kemenangan Shiffrin juga menjadi oase di tengah "badai" yang menimpa tim ski AS. Sebelumnya, tim dikejutkan oleh insiden horor jatuhnya Lindsey Vonn yang mengakibatkan cedera kaki serius di nomor downhill. Emas Shiffrin tak hanya mengangkat moral tim, tapi juga menegaskan kembali posisinya sebagai salah satu atlet ski terbaik sepanjang masa, membuktikan bahwa tekanan dan ekspektasi tinggi tak mampu meruntuhkan semangat juangnya. Ini adalah emas slalom Olimpiade kedua baginya, 12 tahun setelah ia menjadi juara termuda di nomor yang sama pada Olimpiade Sochi.