Persaingan ketat menuju kursi Senat Amerika Serikat di Illinois baru saja usai. Juliana Stratton, Wakil Gubernur Illinois, berhasil memenangkan nominasi Partai Demokrat. Namun, kemenangannya bukan satu-satunya cerita. Di balik layar, gelontoran dana miliaran dolar dari kelompok lobi, termasuk pro-Israel, mencoba mengintervensi hasil. Meski berhasil memuluskan jalan beberapa kandidat, ada pula kekalahan telak yang membuktikan: uang tak selamanya bisa membeli suara.
Kemenangan Stratton pada Selasa malam lalu menjadi sorotan utama dalam pemilihan pendahuluan tersebut. Didukung penuh oleh Gubernur Illinois JB Pritzker, Stratton berhasil mengungguli sepuluh kandidat Demokrat lainnya, termasuk dua anggota DPR AS, Raja Krishnamoorthi dan Robin Kelly. Ia berkampanye dengan janji menaikkan upah minimum federal menjadi $25 per jam dan menghapus agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), isu-isu yang sangat memecah belah pemilih. Setelah kemenangannya, Stratton sesumbar, "Keberanian akan membawa pertarungan ini langsung ke pintu Donald Trump."
Fakta menariknya, Stratton sendiri menerima sumbangan dari puluhan kelompok yang berafiliasi dengan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), sebuah organisasi lobi pro-Israel yang punya pengaruh besar di politik AS. Ini terjadi meskipun AIPAC tidak secara terbuka berkampanye untuknya. Keberhasilan Stratton ini sejalan dengan dukungannya terhadap Israel.
Namun, tidak semua upaya lobi berjalan mulus. Dalam perebutan empat kursi DPR AS lainnya di Illinois, kelompok lobi pro-Israel yang terafiliasi dengan AIPAC menghabiskan jutaan dolar dengan hasil yang campur aduk. Mereka berhasil mendukung kemenangan Donna Miller dan Melissa Bean, namun gagal menghentikan La Shawn Ford dan Daniel Biss, yang juga memenangkan pemilihan di distrik masing-masing.
Kekalahan paling telak bagi kelompok pro-Israel terjadi di Distrik Kesembilan Illinois. Di sana, mereka menggelontorkan lebih dari $4 juta untuk mendukung Senator negara bagian Laura Fine, dan sekitar $1,4 juta untuk menentang Daniel Biss. Namun, Biss lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang. "Distrik Kesembilan tidak untuk dijual," kata Biss dalam pidato kemenangannya, sebuah pernyataan yang seakan menohok upaya lobi berdana jumbo tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun uang dan lobi memiliki peran signifikan dalam politik Amerika, kekuatan suara rakyat dan sentimen lokal masih menjadi penentu. Kasus Daniel Biss adalah bukti nyata bahwa upaya lobi yang masif sekalipun bisa kandas di hadapan dukungan pemilih yang kuat dan pesan kampanye yang resonan.
Secara lebih luas, hasil pemilihan pendahuluan ini juga memberi gambaran strategi Partai Demokrat untuk pemilihan sela (midterm elections) pada November mendatang. Mereka berencana memusatkan kampanye pada isu biaya hidup di AS, seperti harga bahan makanan, BBM, layanan kesehatan, dan biaya pengasuhan anak. Ini merupakan langkah cerdas, mengingat rating persetujuan Presiden Donald Trump yang anjlok ke 39 persen menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru.
Para analis melihat peluang yang cukup besar bagi Demokrat untuk mengambil alih kendali Dewan Perwakilan Rakyat dari Republik yang kini unggul tipis 218-214. Sementara itu, pertarungan untuk Senat, di mana Republik unggul 53-47, diperkirakan akan jauh lebih ketat. Hasil di Illinois ini menjadi cermin dinamika politik yang kompleks, di mana uang, isu, dan sentimen publik saling beradu menentukan arah masa depan.