TES GENDER KEMBALI DI OLIMPIADE: SEMENYA PROTES KERAS - Berita Dunia
← Kembali

TES GENDER KEMBALI DI OLIMPIADE: SEMENYA PROTES KERAS

Foto Berita

Kabar mengejutkan datang dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang secara resmi mengumumkan kebijakan baru untuk Olimpiade Los Angeles 2028. Aturan ini menyatakan bahwa hanya atlet yang tergolong ā€œperempuan biologisā€ yang diperbolehkan berkompetisi dalam ajang olahraga putri, dan penentuannya akan melalui skrining gen SRY satu kali.

Keputusan ini langsung menuai kecaman keras dari Caster Semenya, sprinter kebanggaan Afrika Selatan peraih dua medali emas Olimpiade di nomor 800 meter. Semenya, yang dikenal sebagai atlet hiperandrogenik dan telah lama berjuang melawan aturan serupa, menyebut langkah IOC ini sebagai bentuk ā€œtidak hormat terhadap perempuanā€.

ā€œBagi saya pribadi, apalagi dengan [Presiden IOC baru] Kirsty Coventry adalah seorang perempuan yang berasal dari Afrika, yang memahami bagaimana perempuan Afrika atau perempuan di negara-negara Global Selatan terdampak oleh hal ini, tentu saja ini menyebabkan kerugian,ā€ ujar Semenya di Cape Town, Minggu lalu, di sela-sela sebuah kompetisi olahraga. Ia menambahkan, keputusan ini seolah meminta perempuan untuk ā€œmembuktikan diri layakā€ bertanding di olahraga.

Semenya mengingatkan, IOC sebenarnya pernah menerapkan tes seks kromosom dari tahun 1968 hingga Olimpiade Atlanta 1996, namun kemudian ditinggalkan pada tahun 1999. Alasannya jelas: tekanan dari komunitas ilmiah yang mempertanyakan efektivitasnya, serta desakan dari komisi atlet mereka sendiri. ā€œItu dulu gagal, makanya dihentikan,ā€ tegas Semenya.

Kebijakan IOC kali ini menandai perubahan signifikan dari aturan sebelumnya yang diterapkan pada tahun 2021, di mana federasi olahraga diizinkan untuk menentukan kebijakan mereka sendiri terkait partisipasi atlet. Kini, IOC justru menerapkan kebijakan tunggal di semua cabang olahraga Olimpiade. Ini berarti, bukan hanya transgender wanita, tetapi juga atlet seperti Semenya yang memiliki kondisi medis tertentu dengan kadar testosteron alami yang tinggi, berpotensi terdampak serius.

Caster Semenya sendiri telah menjadi simbol perjuangan bagi atlet hiperandrogenik. Perjuangannya tidak hanya di lintasan lari, tetapi juga di meja hijau. Pada tahun 2025, ia bahkan memenangkan sebagian gugatan di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa setelah tujuh tahun berjuang hukum melawan aturan kelayakan gender yang ditetapkan oleh World Athletics. Meskipun putusan itu tidak membatalkan aturan World Athletics yang secara efektif mengakhiri karir Semenya di nomor 800m, namun mengindikasikan bahwa hak-haknya atas pemeriksaan yang adil telah dilanggar.

Keputusan IOC ini dipastikan akan memicu gelombang perdebatan yang lebih luas mengenai etika, hak asasi manusia, dan definisi ā€œkeadilanā€ dalam olahraga kompetitif. Bagaimana olahraga dapat menyeimbangkan prinsip inklusivitas dengan prinsip kesetaraan dan keunggulan biologis menjadi pertanyaan besar yang belum tuntas terjawab.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook