IRAN TAHUN BERDARAH: PERANG 12 HARI TEWASKAN RIBUAN - Berita Dunia
← Kembali

IRAN TAHUN BERDARAH: PERANG 12 HARI TEWASKAN RIBUAN

Foto Berita

Teheran, Iran – Peringatan satu tahun perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025 berlangsung di tengah negosiasi alot antara pejabat Amerika dan Iran. Kedua pihak mengisyaratkan kesepakatan gencatan senjata 60 hari menuju perdamaian komprehensif sudah di depan mata, meski kekhawatiran akan sabotase dari Israel masih membayangi.

Dalam perang yang disebut Israel sebagai Operasi Rising Lion itu, Iran kehilangan puluhan komandan senior militer. Nama-nama seperti Mohammad Bagheri (kepala staf angkatan bersenjata), Hossein Salami (panglima IRGC), dan Ali Akbar Hajizadeh (kepala aerospace) gugur dalam rentang 13-24 Juni 2025. Rezim Iran mengabadikan mereka sebagai 'sahabat akhir zaman' dari Husayn bin Ali, figur sentral dalam syiar Islam Syiah tentang kesyahidan.

Tak hanya militer, para ilmuwan nuklir seperti Mohammad Mehdi Tehranchi juga tewas dibunuh. Data pemerintah Iran menyebut lebih dari 1.000 warga tewas dalam kampanye bom AS-Israel selama 12 hari, termasuk ratusan warga sipil dan puluhan anak-anak. Angka itu melonjak drastis dalam perang terbaru: dari total 3.468 korban jiwa, hampir setengahnya adalah warga sipil.

Puncak duka terjadi pada 28 Februari lalu, saat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas di hari pertama perang terbaru. Jenazahnya akan dimakamkan di kuil Syiah di Mashhad pada pekan kedua Juli setelah enam hari prosesi pemakaman kenegaraan.

Meski setahun penuh darah, pemerintah Iran justru membingkai ini sebagai perjuangan melawan dominasi asing. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam wawancara TV nasional Jumat malam menegaskan: 'Negosiasi tidak menyebabkan perang, perlawananlah yang menyebabkan perang. Musuh punya tuntutan, kami melawan, mereka beralih ke perang.'

Analisis: Peringatan ini bukan sekadar nostalgia. Ini adalah alat mobilisasi. Dengan menampilkan para jenderal sebagai 'syuhada akhir zaman', Teheran membangun narasi bahwa pengorbanan adalah harga wajib untuk kedaulatan. Di sisi lain, kendali Iran atas Selat Hormuz yang menguasai seperlima minyak dunia membuat posisi tawar mereka masih kuat. Namun, angka korban sipil yang tinggi memicu pertanyaan: sampai kapan rakyat Iran sanggup membayar harga ini?


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook