Situasi kemanusiaan di Darfur Utara, Sudan, semakin mencekam. Kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) baru-baru ini melancarkan serangan besar-besaran di kota Misteriha, meninggalkan jejak kehancuran dan menambah daftar panjang korban konflik.
Setidaknya 28 orang dilaporkan tewas dan 39 lainnya luka-luka, termasuk 10 perempuan, dalam aksi brutal RSF ini. Jaringan Dokter Sudan (Sudan Doctors Network) yang memantau kekerasan konflik tiga tahun terakhir menyebutkan, serangan itu juga menghancurkan satu-satunya fasilitas kesehatan di Misteriha. Tak hanya itu, tenaga medis juga menjadi sasaran, bahkan seorang pekerja kesehatan ditahan dan kini dinyatakan hilang.
Jaringan tersebut mengecam keras, "Serangan-serangan ini adalah kejahatan sepenuhnya dan pelanggaran terang-terangan terhadap semua hukum kemanusiaan serta internasional yang mengkriminalkan serangan terhadap warga sipil."
Serangan ke Misteriha bukan tanpa alasan. Kota ini diketahui merupakan markas pemimpin suku Arab, Musa Hilal. Menariknya, Hilal, yang berasal dari suku Rizeigat—suku yang menjadi basis utama RSF—justru menyuarakan dukungan untuk pemerintah Sudan. Padahal, RSF sendiri terbentuk dari milisi Janjaweed yang pernah dipimpin oleh Hilal di masa lalu, dan ia pernah dikenai sanksi PBB karena kekejaman etnis di Darfur pada tahun 2000-an. RSF bahkan menargetkan wisma Hilal dengan serangan drone beberapa hari sebelum melancarkan serangan darat.
Konflik bersenjata antara RSF dan tentara reguler Sudan yang pecah sejak April 2023 telah memporak-porandakan negara itu, terutama di Darfur. Wilayah seluas Prancis ini menjadi rumah bagi banyak kelompok bersenjata yang sebagian besar terorganisir berdasarkan garis etnis. Beberapa memilih berpihak pada RSF atau tentara, sementara lainnya memilih netral, membentuk kesepakatan informal untuk menjaga wilayah mereka.
PBB sendiri, dalam penyelidikan pekan lalu, menemukan bahwa RSF telah melakukan tindakan genosida terhadap kelompok etnis non-Arab. Perang ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan 11 juta orang mengungsi, menciptakan krisis kelaparan dan pengungsian terbesar di dunia. Kini, RSF semakin mengkonsolidasikan kendali mereka di Darfur, menambah kompleksitas dan penderitaan di wilayah tersebut.