Teheran, Iran – Meski hubungan panas dan saling tembak masih terjadi, pucuk pimpinan Iran ternyata tidak menutup pintu sepenuhnya untuk berunding dengan Amerika Serikat. Namun, perbedaan sikap di antara faksi-faksi internal di Teheran membuat jalan menuju kesepakatan masih terjal.
Perang retorika ini memanas setelah putra Pemimpin Tertinggi yang baru, yang menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, mulai angkat bicara lewat pesan tertulis. Dalam berbagai pesannya, ia menegaskan bahwa program nuklir dan rudal Iran adalah 'aset nasional' yang tak bisa ditawar, serta memprediksi sanksi AS masih akan bertahan setahun ke depan. Ia juga memerintahkan rakyatnya untuk terus turun ke jalan setiap malam sebagai bentuk protes.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang kini semakin kuat justru memilih bungkam soal detail negosiasi. Mereka lebih fokus pada pertempuran di lapangan, termasuk saling serang dengan militer AS di sekitar Selat Hormuz. Sementara itu, media Israel ramai memberitakan ledakan di sebuah apartemen di Teheran sebagai aksi pembunuhan terhadap jenderal IRGC, namun media lokal Iran bersikukuh itu hanya kebocoran gas.
Analisis: Situasi ini menciptakan kebuntuan yang berbahaya. Di satu sisi, ada sinyal diplomatik dari pemimpin baru yang ingin stabilitas, namun di sisi lain, tekanan dari faksi garis keras dan serangan intelijen asing membuat Iran terus berada dalam mode perang. Dampaknya bagi masyarakat global adalah ancaman terganggunya jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz yang bisa memicu lonjakan harga energi dunia.