PEMIMPIN MUSLIM DITAHAN AS: ANCAMAN BARU KEBEBASAN BICARA? - Berita Dunia
← Kembali

PEMIMPIN MUSLIM DITAHAN AS: ANCAMAN BARU KEBEBASAN BICARA?

Foto Berita

Penahanan mendadak Salah Sarsour, seorang pemimpin komunitas Muslim Palestina di Milwaukee, Amerika Serikat, oleh sepuluh agen federal dari Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) pada 30 Maret lalu memicu gelombang kecaman. Sarsour, yang juga dikenal sebagai advokat vokal Palestina, ditangkap saat sedang berkendara dan kemudian dipindahkan ke fasilitas detensi di Illinois, lalu ke Indiana, membuat keluarganya kebingungan mencari tahu keberadaannya.

Sepuluh kelompok hak sipil Muslim terkemuka, termasuk Council on American-Islamic Relations (CAIR) dan Muslim Legal Fund of America, segera mengeluarkan surat bersama. Mereka dengan tegas mengutuk penahanan Sarsour, yang merupakan penduduk tetap sah di AS selama 32 tahun dengan istri dan anak-anak warga negara AS. Kelompok-kelompok ini menuding bahwa penangkapan Sarsour bermotif politik, menargetkannya “atas dasar latar belakang Palestina dan Muslimnya.”

Dalam suratnya, mereka menyatakan bahwa penahanan Sarsour mencerminkan tren yang mengkhawatirkan di mana aktivis imigran, cendekiawan, dan mahasiswa asing ditargetkan untuk dideportasi berdasarkan solidaritas pro-Palestina mereka. Mereka menyebut kasus Mahmoud Khalil, Leqaa Kordia, Mohsen Mahdawi, dan Rumeysa Ozturk sebagai contoh. Kelompok-kelompok ini bahkan menuduh “pemerintahan ini mempersenjatai sistem peradilan AS untuk memajukan kepentingan negara asing, Israel, di saat negara itu melakukan genosida di Gaza.”

Situasi ini diperparah oleh pernyataan keras dari mantan Presiden Donald Trump. Saat berkampanye untuk pemilihan ulang tahun 2024, Trump berjanji akan menindak tegas para pengunjuk rasa yang mengecam pelanggaran hak asasi manusia selama konflik di Gaza. Menurut laporan Washington Post Mei 2024, Trump bahkan menyebut gerakan protes itu sebagai “revolusi radikal” dan berencana “memundurkan gerakan itu 25 atau 30 tahun” jika terpilih. Kekhawatiran muncul bahwa kebijakan ini, yang bisa mencakup pencabutan dana federal dari universitas yang menjadi lokasi protes dan deportasi penduduk tetap legal, mulai diterapkan atau memiliki pengaruh pada tindakan seperti penahanan Sarsour.

Sebagai respons, kelompok-kelompok tersebut telah meluncurkan kampanye penggalangan dana daring untuk membantu pembelaan hukum Sarsour, yang telah berhasil mengumpulkan lebih dari $35.500. Kasus ini bukan hanya tentang penahanan seorang individu, melainkan menjadi simbol kekhawatiran besar akan pembungkaman kebebasan berekspresi dan hak-hak sipil, khususnya bagi komunitas Muslim dan pro-Palestina di AS, di tengah iklim politik yang semakin represif.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook