BEIRUT — Di tengah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal kesepakatan de-eskalasi, bom justru kembali berjatuhan di Lebanon selatan. Setidaknya lima orang tewas dalam serangan Israel pada Selasa (25/3/2025) waktu setempat, hanya beberapa jam setelah Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hizbullah sepakat meredakan ketegangan.
Berdasarkan laporan kantor berita nasional Lebanon (NNA), dua warga Suriah tewas saat bekerja di sebuah pembibitan tanaman di kota Jebchit, wilayah Nabatieh. Dua lainnya tewas dalam serangan pesawat nirawak yang menghantam sebuah sepeda motor di Toul dan sebuah mobil di lingkungan Dhi'at al-Arab, Ansar. Satu korban lagi adalah pengemudi mobil yang tewas di Nabatieh.
Ironisnya, serangan ini terjadi setelah Trump mengaku telah berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pimpinan Hizbullah. Kantor Presiden Lebanon Joseph Aoun bahkan menyebutkan poin kesepakatan: Hizbullah berhenti menembak ke Israel, dan Israel berhenti menyerang pinggiran selatan Beirut.
Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Militer Israel mengaku mencegat dua proyektil yang ditembakkan dari Lebanon ke Israel utara pagi harinya. Sementara itu, kontributor Al Jazeera di Beirut, Zeina Khodr, melaporkan bahwa Hizbullah tidak mengklaim serangan lintas batas apa pun pasca-pengumuman Trump. Mereka justru masih melancarkan serangan terhadap pasukan Israel yang menduduki Lebanon selatan.
Analisis Dampak: Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan yang baru diumumkan. Alih-alih mereda, eskalasi justru meningkat dengan pasukan Israel melakukan penetrasi terdalam ke Lebanon dalam dua dekade terakhir, termasuk merebut Kastil Beaufort yang bersejarah. Belum lagi klaim Netanyahu yang mengancam akan menghajar target Hizbullah di Beirut jika serangan tidak dihentikan. Publik internasional patut khawatir, karena jika gencatan senjata ini gagal, bukan tidak mungkin perang terbuka kembali pecah dan menyeret lebih banyak korban sipil.