Ketegangan di Timur Tengah kian memanas! Iran kini menyerukan warganya untuk mengubah festival api Chaharshanbe Suri, perayaan tahunan yang melambangkan kemenangan cahaya atas kegelapan, menjadi ajang protes politik besar-besaran. Bukan sembarang protes, kali ini sasarannya adalah patung atau efigi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pemerintah Iran, melalui media corong negaranya, secara terang-terangan mengajak masyarakat untuk membakar patung dua pemimpin tersebut di jalanan dan alun-alun kota. Seruan ini datang di tengah situasi yang semakin intens, di mana Iran dan sekutunya terlibat dalam konflik terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel.
Uniknya, tradisi membakar kembang api dan bahan peledak yang biasa jadi bagian festival Chaharshanbe Suri justru dilarang ketat oleh kejaksaan Tehran. Alasannya, penggunaan kembang api dikhawatirkan "disalahgunakan oleh elemen mata-mata atau perusuh dari musuh." Ini menunjukkan upaya pemerintah Iran untuk mengontrol narasi dan aktivitas publik, sekaligus mengarahkan energi perayaan masyarakat menjadi alat propaganda politik.
Tak hanya itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran juga unjuk gigi. Mereka mengklaim akan melanjutkan "Chaharshanbe Suri regional" dengan menembakkan rudal balistik dan drone ke negara lain. IRGC bahkan merilis rekaman rudal balistik jarak jauh Sejjil yang ditembakkan, menegaskan ancaman mereka untuk "mengejar dan membunuh" Netanyahu. Ini jelas bukan sekadar simbolis, melainkan demonstrasi kekuatan militer yang bisa memperkeruh stabilitas regional.
Di sisi lain, Tehran tegas menolak negosiasi dengan Washington. Iran menuntut ganti rugi dan jaminan keamanan dari serangan di masa depan jika konflik ingin dihentikan. Situasi di jalanan Tehran pun mencerminkan ketegangan ini. Aktivitas sehari-hari berkurang, namun malam hari diwarnai patroli ketat pasukan paramiliter Basij dan mobilisasi pendukung pemerintah di masjid-masjid serta alun-alun kota, meneriakkan slogan anti-Amerika. Aksi ini, menurut beberapa warga yang berbicara dengan media internasional, diorganisir secara terstruktur untuk menggalang dukungan dan menunjukkan kekuatan internal.
Analisis: Upaya Iran mengubah festival budaya menjadi ajang protes politik masif ini menunjukkan bagaimana pemerintah berupaya memobilisasi sentimen anti-Barat dan anti-Israel di tengah masyarakat. Dengan melarang kembang api tradisional namun mendorong pembakaran efigi, pemerintah tidak hanya mengendalikan bentuk perayaan, tapi juga menyalurkan potensi kegembiraan publik menjadi ekspresi kemarahan politik. Dampaknya, tradisi kuno kini menjadi alat penegas garis keras kebijakan luar negeri Iran, sekaligus meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan yang sudah tegang. Masyarakat pun dipaksa menjadi bagian dari narasi konflik yang lebih besar dan berpotensi merasakan dampak langsung dari peningkatan ketegangan ini.