New York Knicks berada di ambang sejarah. Setelah comeback gila-gilaan di Game 4 Final NBA, mereka kini unggul 3-1 atas San Antonio Spurs. Satu kemenangan lagi, dan gelar juara yang sudah dinanti selama 53 tahun sejak 1973 akan kembali ke New York.
Momen paling dramatis terjadi saat Knicks membalikkan defisit 29 poin di Game 4, menang 107-106 lewat tip-in OG Anunoby di detik-detik akhir. Ini adalah comeback terbesar dalam sejarah Final NBA, mengalahkan rekor Boston Celtics di tahun 2008. Spurs yang sebelumnya unggul 20 poin dengan sisa 9:33 di kuarter keempat harus gigit jari.
Pelatih Knicks, Mike Brown, mengakui tugas belum selesai. Ia menyebut laga di San Antonio akan menjadi ujian berat karena Spurs pasti bermain mati-matian. Sementara itu, bintang Knicks Jalen Brunson yang mencetak 36 poin di Game 4 meminta timnya tetap fokus dan tidak mengulangi kebobolan besar seperti sebelumnya.
Di kubu Spurs, point guard De'Aaron Fox menegaskan timnya tidak menyerah. Mereka hanya fokus memenangkan Game 5 terlebih dahulu, satu demi satu. Namun sejarah berkata lain: hanya Cleveland Cavaliers di tahun 2016 yang berhasil membalikkan ketertinggalan 1-3 di Final NBA. Victor Wembanyama, bintang muda Spurs, harus bermain lebih efisien jika ingin memperpanjang napas timnya.
Analisis Dampak: Jika Knicks menang, ini akan menjadi salah satu kisah comeback terbesar dalam sejarah olahraga Amerika. Bagi New York, ini lebih dari sekadar trofi; ini adalah akhir dari kutukan panjang yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad. Bagi Spurs, kekalahan ini akan menjadi luka mendalam yang menghancurkan moral, mirip dengan bagaimana Warriors kehilangan gelar di tahun 2016.