GENCATAN SENJATA LEBANON-ISRAEL: HIZBULLAH TOLAK, PERANG BERLANJUT - Berita Dunia
← Kembali

GENCATAN SENJATA LEBANON-ISRAEL: HIZBULLAH TOLAK, PERANG BERLANJUT

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia — Kesepakatan gencatan senjata terbaru antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat kembali di ambang kegagalan. Meski pemerintahan Trump mengumumkan bahwa kedua pihak setuju untuk menerapkan gencatan senjata baru, sejumlah fakta di lapangan justru menunjukkan situasi sebaliknya.

Menteri Pertahanan Israel dengan tegas menyatakan militer akan terus melanjutkan operasi di Lebanon. Di sisi lain, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, langsung menolak mentah-mentah kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk 'menyerah dan kalah'.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, sebelumnya mengatakan gencatan senjata akan berlaku dalam 24 jam setelah semua pihak menyetujuinya. Namun, pernyataan Hizbullah dan Israel membuat prospek perdamaian ini kembali suram.

Ini bukan pertama kalinya upaya damai gagal. Pada April lalu, kesepakatan serupa juga pernah diumumkan, namun sejak saat itu lebih dari 600 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon. Israel bahkan memperluas pendudukan militernya di selatan Lebanon, kini menguasai sekitar seperlima wilayah negara tersebut.

Analis menilai kegagalan ini tidak lepas dari peran Iran. Teheran, yang merupakan sekutu dekat Hizbullah, menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat utama untuk setiap kesepakatan lebih luas dengan AS. Komandan Pasukan Quds Iran, Esmail Qaani, menuntut Israel mundur ke posisi sebelum perang pada Februari lalu—sebuah tuntutan yang tidak tercantum dalam teks kesepakatan.

Dalam perjanjian yang diumumkan, Israel dan Lebanon sepakat untuk memberlakukan gencatan senjata dengan syarat 'penghentian total' tembakan Hizbullah dan evakuasi para pejuangnya dari daerah selatan Sungai Litani. Kesepakatan juga membentuk 'zona percontohan' di mana Tentara Lebanon akan mengambil kendali penuh.

Masalahnya, Hizbullah tidak dilibatkan dalam negosiasi dan sudah menolak perjanjian tersebut. Lebanon diwakili oleh diplomat pemerintah, sementara tentara Lebanon bukanlah pihak yang bertikai dalam konflik ini.

Pertemuan lanjutan dijadwalkan pada pekan 22 Juni, namun banyak pihak meragukan tahap itu akan tercapai. Pengalaman dengan perjanjian April lalu yang gagal menghentikan serangan Israel menjadi bukti nyata sulitnya perdamaian di kawasan ini.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook