AFRIKA TERJERUMUS PERANG UKRAINA: JANJI KERJA BERUJUNG MAUT? - Berita Dunia
← Kembali

AFRIKA TERJERUMUS PERANG UKRAINA: JANJI KERJA BERUJUNG MAUT?

Foto Berita

Tuduhan serius dilayangkan Ukraina terhadap Rusia. Moskow dituding telah merekrut lebih dari 1.700 warga Afrika dari 36 negara untuk terjun ke medan perang. Banyak dari mereka, termasuk warga Ghana dan Afrika Selatan, diduga terperdaya oleh janji pekerjaan fiktif, berujung di garis depan tanpa pelatihan militer.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengungkapkan bahwa Rusia menggunakan 'skema penipuan' untuk menarik warga Afrika ke dalam konflik mematikan ini. Angka yang disebutkannya fantastis: lebih dari 1.780 tentara dari Benua Hitam kini bertempur untuk Rusia.

Klaim ini bukan isapan jempol. Menteri Luar Negeri Ghana, Samuel Okudzeto Ablakwa, mengonfirmasi bahwa banyak warganya menjadi korban, terjebak melalui promosi di dark web. Mereka yang direkrut, kata Ablakwa, sebenarnya tidak punya latar belakang keamanan maupun militer, namun langsung dilempar ke garis depan. Ini adalah praktik penipuan keji yang patut dihentikan.

Bukan cuma Ghana, Pemerintah Afrika Selatan juga sudah berhasil memulangkan 11 warganya yang tertipu untuk berperang di Ukraina, menambah daftar repatriasi sebelumnya. Ini menunjukkan skala masalah yang cukup serius.

Meski Rusia membantah tuduhan perekrutan ilegal ini, laporan mengenai warga Afrika yang terpikat janji kerja palsu di Rusia dan berakhir di medan perang Ukraina semakin sering muncul belakangan ini. Fenomena ini bahkan memicu ketegangan diplomatik antara Moskow dan beberapa negara Afrika. Sebelumnya, Rusia juga diketahui merekrut tentara dari Korea Utara, yang banyak di antaranya tewas atau terluka dalam pertempuran.

Situasi ini menyoroti betapa rentannya masyarakat di negara-negara dengan tingkat pengangguran tinggi terhadap jaringan penipuan global. Janji pekerjaan menggiurkan di luar negeri, yang seringkali dipasarkan melalui platform gelap seperti dark web, menjadi umpan empuk bagi mereka yang putus asa mencari nafkah. Ironisnya, alih-alih pekerjaan, yang mereka dapatkan adalah seragam tempur dan ancaman maut di medan perang. Praktik ini tidak hanya memunculkan isu kemanusiaan serius, tetapi juga berpotensi memperburuk hubungan diplomatik Rusia dengan negara-negara Afrika. Ghana sendiri berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran publik tentang jaringan penipuan ini selama masa kepemimpinannya di Uni Afrika tahun depan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pun telah membahas hal ini secara rinci dengan Menlu Ghana, menunjukkan keseriusan isu ini di kancah internasional.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook