Seiring para pemimpin dunia mulai mencabut berbagai aturan pembatasan pandemi yang sempat jadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita, banyak orang bernapas lega. Tak ada lagi kewajiban masker, jaga jarak, atau perdebatan sengit soal vaksin. Rasanya, hidup kembali normal!
Namun, benarkah begitu? Ternyata, tidak untuk semua orang. Bagi jutaan individu dengan disabilitas dan penyakit kronis, konsep 'kembali normal' ini mungkin tak akan pernah ada.
Salah satunya adalah Britt Lynnae, seorang aktivis keadilan disabilitas dan kreator konten berusia 25 tahun di Chicago. Di tengah euforia publik yang menganggap COVID-19 sudah berakhir, Britt dan kelompoknya justru merasa makin terpinggirkan, terpaksa mengisolasi diri demi bertahan hidup.
Britt menderita Ehlers-Danlos Syndrome (EDS), kelainan jaringan ikat yang bisa menyebabkan dislokasi sendi serta masalah paru-paru dan jantung. Selain itu, ada juga Complex Regional Pain Syndrome (CRPS) yang membuatnya merasakan nyeri hebat di kaki. Baginya, COVID-19 bukan sekadar flu biasa. Infeksi ini bisa memperparah kondisi kronisnya, bahkan mengancam nyawanya.
Sejak awal pandemi, Britt sudah sangat ketat menjaga diri. Ia tak pernah meninggalkan rumah kecuali untuk hal esensial. Belanja kebutuhan pokok semua via layanan antar, dan setiap barang masuk rumah selalu disterilkan. Kehidupan sosialnya praktis terhenti. Ia bekerja dari rumah dan bahkan saat harus keluar, masker selalu terpasang, bahkan di ruang terbuka. Makan di restoran? Jangan harap.
Ironisnya, upaya isolasi ketat ini justru berdampak pada penanganan medis untuk EDS dan CRPS-nya. Karena rumah sakit penuh dan risiko terpapar COVID-19 yang tinggi, Britt terpaksa menunda beberapa perawatan rutin, termasuk suntikan tulang belakang untuk mengatasi nyerinya. Akibatnya, ia sering mengalami kambuhan dengan nyeri yang tak tertahankan.
Britt merasa ditinggalkan. Saat dunia bergegas 'melupakan' pandemi, ia dan banyak individu berisiko tinggi lainnya harus berjuang sendiri dalam kesepian. Namun, di balik semua tantangan itu, Britt justru menemukan kekuatan baru melalui advokasi dan gerakan untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Ia ingin memastikan bahwa suara mereka tidak lagi diabaikan dalam kebijakan kesehatan publik.
Kisah Britt Lynnae adalah pengingat bahwa pandemi belum berakhir bagi semua orang. Untuk mereka yang paling rentan, perjuangan melawan COVID-19 masih terus berlanjut, seringkali dalam isolasi dan tanpa perlindungan yang memadai.