Kepercayaan masyarakat global terhadap berita mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Laporan terbaru dari Reuters Institute menunjukkan angka kepercayaan publik dunia hanya berada di 37 persen, turun tiga poin dari tahun lalu. Di Inggris, penurunan lebih tajam terjadi, dari 35 persen menjadi 30 persen—angka ini 20 poin lebih rendah dibandingkan satu dekade lalu.
Penelitian yang melibatkan hampir 100.000 responden di 48 negara ini mengungkapkan bahwa lebih dari separuh masyarakat kini mendapatkan berita dari platform pihak ketiga seperti media sosial dan jaringan video. Meski begitu, sumber tradisional seperti situs web berita dan televisi masih digunakan oleh jumlah yang hampir sama.
Direktur Reuters Institute, Rasmus Kleis Nielsen, menjelaskan bahwa data menunjukkan adanya campuran antara kecemasan, ketidaktertarikan, dan sinisme dari audiens. Banyak yang tidak suka dengan cara media meliput berita jangka panjang seperti imigrasi, inflasi, dan konflik internasional. Menariknya, meski akses berita lewat media sosial meningkat, kepercayaan pada format tersebut justru lebih rendah, hanya 22 persen.
Dalam konteks Indonesia, fenomena ini relevan dengan maraknya berita hoaks dan polarisasi politik yang masih tinggi. Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia menilai penurunan kepercayaan ini bisa berdampak pada menurunnya partisipasi publik dalam isu-isu kebangsaan. Sementara itu, kepercayaan terhadap jawaban dari chatbot AI masih sangat rendah, hanya 20 persen, meskipun penggunaannya mingguan meningkat dari 7 persen menjadi 10 persen.
Yang menarik, dukungan terhadap berita yang tidak memihak justru tetap tinggi dan hampir tidak terpengaruh oleh perubahan konsumsi berita. Di Amerika Serikat, kepercayaan pada berita hanya 25 persen, dan lebih rendah lagi di kalangan pendukung sayap kanan politik, yaitu 15 persen. Beberapa outlet berita besar seperti CBS News dan Fox News kehilangan 10 poin kepercayaan, sementara CNN turun enam poin.
Video berita online kini menjadi arus utama di mana-mana. Secara global, 77 persen orang mengonsumsi video berita online setiap minggu. Format ini bahkan sudah mengungguli siaran berita TV di hampir semua pasar, kecuali Jerman, Denmark, dan Belanda. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa popularitas kreator konten dan video online bukan bukti bahwa masyarakat tidak lagi menginginkan berita, melainkan mereka ingin berita terasa lebih mudah diakses, lebih mudah dipahami, dan lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari.