Siapa yang tak pernah asyik menggulir layar TikTok sampai lupa waktu? Mungkin tanpa sadar Anda pernah melihat karya Imani Barbarin, seorang advokat disabilitas dan aktivis inklusi dari Philadelphia. Video-video kritiknya di TikTok telah mengumpulkan hampir 25 juta likes, menyuarakan isu-isu penting yang sering terabaikan.
Imani Barbarin dikenal aktif di TikTok dan Twitter untuk mengedukasi publik tentang disabilitas. Ia tak ragu mengkritik retorika 'ableist' (diskriminatif terhadap disabilitas), termasuk pernyataan Direktur CDC, Rochelle Walensky, yang merasa 'terdorong' karena sebagian besar korban COVID-19 yang meninggal dan sudah divaksinasi, 'memiliki setidaknya empat komorbiditas, jadi mereka memang orang yang sudah sakit dari awal'. Pernyataan ini jelas meremehkan nyawa penyandang disabilitas dan orang dengan penyakit kronis.
Melalui wawancara daring, Imani berbagi bagaimana pandemi memengaruhi hidup dan pekerjaannya. Baginya, sebelum pandemi, disabilitas sering dianggap 'masalah mereka sendiri', seolah tidak akan pernah menimpa orang lain. Namun, pandemi COVID-19 mengubah segalanya. 'Siapa pun bisa saja memiliki disabilitas atau terkena dampaknya. Sekarang, hal ini ada di depan mata mereka,' tegasnya.
Awal pandemi, Imani sangat cemas dengan pedoman penjatahan medis. Ia khawatir penyandang disabilitas akan menjadi prioritas terakhir dalam mendapatkan perawatan jika rumah sakit penuh. Pengalaman dari Italia, di mana COVID-19 disebut 'hanya memengaruhi penyandang disabilitas dan lansia', membuatnya menyadari bahwa masyarakat Amerika cenderung abai terhadap kelompok ini. Ditambah lagi, data menunjukkan dampak COVID-19 yang lebih parah pada warga kulit hitam dan kelompok minoritas, memicu gelombang keengganan untuk mengenakan masker. Sebagai wanita kulit hitam, Imani juga panik dan ragu akan mendapatkan perawatan yang adil dalam situasi krisis.
Tekanan pandemi bahkan membuat Imani jatuh sakit. Ia kerap insomnia selama berbulan-bulan, mengalami masalah fisik, kabut otak (brain fog) yang parah, hingga otot-otot yang kaku. Namun, di saat yang sama, advokasinya di media sosial justru meledak. Sejak awal 2020, ia tak henti-hentinya bersuara bahwa pandemi adalah 'peristiwa pemicu disabilitas massal'. Pesannya yang konsisten ini akhirnya viral.
Meski sukses besar, Imani merasa sulit menyeimbangkan antara berbicara dengan sesama penyandang disabilitas dan mengedukasi mereka yang tidak disabilitas. Ia ingin kembali bisa bercanda dan bersenang-senang dengan komunitasnya. Namun, ia juga sadar betul bahwa ia harus terus bicara kepada non-disabilitas. 'Jika mereka tidak menganggapnya serius, penyandang disabilitas lah yang akan menanggung akibatnya,' pungkas Imani.