Warga Amerika Serikat kembali bersiap memberikan suara dalam pemilihan pendahuluan (primary) yang digelar serentak di sejumlah negara bagian dan ibu kota Washington DC, Selasa waktu setempat. Momen ini menjadi langkah krusial menuju Pemilu Paruh Waktu (midterm) November mendatang, yang akan menentukan kendali atas Kongres AS sekaligus menjadi referendum terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Di Alabama, pertarungan paling panas terjadi di kubu Republik untuk memperebutkan kursi Senat yang ditinggalkan Tommy Tuberville. Dua kandidat, Jared Hudsonâmantan Navy SEALâdan Barry Mooreâanggota Kongres yang didukung Trumpâharus menjalani putaran kedua setelah hasil pemungutan suara pertama pada 19 Mei lalu tak ada yang menang mutlak. Moore unggul tipis dengan 39 persen suara melawan 26 persen milik Hudson. Kemenangan di sini akan menjadi ujian seberapa kuat pengaruh Trump terhadap pemilih Republik. Sementara di kubu Demokrat, warga memilih antara pengusaha aromaterapi hewan peliharaan, Dakarai Larriett, atau mantan hakim kota, Everett Wess.
Sementara itu, California menggelar primary khusus untuk mengisi kursi Dewan Perwakilan Rakyat yang ditinggalkan Eric Swalwell. Swalwell mundur setelah tersandung skandal pelecehan seksual. Nama-nama seperti Senator negara bagian Aisha Wahab dan mantan Walikota Dublin bersaing ketat. Di Georgia dan Oklahoma, pertarungan internal partai juga tak kalah sengit, terutama di kubu Demokrat yang mencoba merebut kursi dari Republik.
Analisis: Pemilu paruh waktu ini bukan sekadar soal kursi di Kongres. Ini adalah barometer kepuasan publik terhadap Trump yang sedang terpuruk akibat perang melawan Iran yang menguras anggaran dan memicu kenaikan biaya hidup. Jika Partai Republik kehilangan kendali di Senat atau DPR, agenda Trump bisa lumpuh total. Para pengamat menilai, kekalahan di Alabama bisa menjadi sinyal awal runtuhnya 'efek Trump' di kalangan pemilih konservatif.