Warga Palestina di Jalur Gaza kini menghadapi krisis keuangan akut, sebuah dampak pahit dari perang berkepanjangan sejak Oktober 2023. Realitas sehari-hari mereka dipersulit oleh kelangkaan uang tunai yang parah, memaksa mereka berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Uang tunai Shekel Israel, mata uang yang digunakan di Gaza, banyak yang sudah lusuh dan compang-camping. Akibatnya, pedagang sering menolak menerima uang tersebut, membuat transaksi sederhana seperti membeli bahan makanan atau membayar ongkos taksi menjadi tantangan besar. Samar Abu Harbied, seorang ibu rumah tangga, terpaksa berutang di warung langganannya karena tak ada uang tunai di dompetnya. Bahkan, uang 20 Shekel milik Najlaa Sukkar ditolak apotek karena terlalu usang, membuatnya gagal berobat.
Situasi ini diperparah dengan hancurnya infrastruktur perbankan. Diperkirakan 90 persen cabang bank dan mesin ATM di Gaza luluh lantak akibat konflik. Kondisi ini secara efektif memutus akses warga terhadap uang tunai baru. Menanggapi krisis likuiditas ini, Otoritas Moneter Palestina bersama penyedia layanan internet mendorong penggunaan sistem pembayaran elektronik berbasis ponsel, seperti PalPay dan Jawwal Pay, sebagai solusi sementara. Namun, solusi ini pun punya kendala, terutama karena cakupan internet yang seringkali terbatas dan belum merata.
Krisis likuiditas ini tidak hanya mempersulit transaksi, tetapi juga memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah parah di Gaza. Ketergantungan warga pada Israel untuk pasokan uang tunai baru, ditambah kehancuran total sistem perbankan, menempatkan mereka dalam posisi yang sangat rentan. Tanpa akses mudah ke uang tunai yang layak, warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, menjadikan upaya pemulihan pascaperang semakin berat dan menambah lapisan penderitaan di tengah konflik yang tak berkesudahan.