Ribuan warga Venezuela tumpah ruah di jalanan ibu kota Caracas, Selasa kemarin. Mereka turun ke jalan bukan untuk berpesta, melainkan untuk menyuarakan kemarahan dan tuntutan keras: bebaskan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores! Demonstrasi besar ini digelar tepat sebulan setelah dugaan penculikan pasangan itu oleh pasukan Amerika Serikat dalam sebuah operasi malam hari yang berdarah.
Aksi massa yang digagas pemerintah dengan tajuk "Gran Marcha" atau "Pawai Akbar" ini dipenuhi spanduk-spanduk dukungan dan seruan agar Maduro serta Flores segera kembali dari penahanan di AS. "Venezuela Butuh Nicolas!" teriak massa bersahutan. Nicolas Maduro Guerra, putra Presiden Maduro yang juga anggota Majelis Nasional Venezuela, tak ketinggalan menyemangati massa. Dari atas panggung, ia mengecam keras penculikan ayahnya pada 3 Januari lalu. "Tanah air kita dicemari tentara asing," ujarnya, menegaskan bahwa insiden itu akan "terukir seperti luka di wajah kita, selamanya."
Pawai ini, yang membentang ratusan meter diiringi truk musik, bukan hanya terjadi di Caracas. Media lokal Venezuela News melaporkan bahwa demonstrasi ini merupakan bagian dari "Hari Aksi Global" yang menuntut pembebasan Maduro. Solidaritas mengalir dari berbagai penjuru dunia, di mana para demonstran mengusung spanduk bertuliskan "Bawa Mereka Kembali" dan "Jangan Sentuh Venezuela". Berbagai kelompok dengan pandangan ideologi berbeda bersatu, sepakat bahwa penahanan Presiden Maduro dan Flores adalah pelanggaran berat hukum internasional dan "preseden berbahaya bagi kedaulatan bangsa-bangsa."
Situasi ini jelas membuat rakyat Venezuela campur aduk. "Kami merasa bingung, sedih, marah. Banyak sekali emosi," ungkap Jose Perdomo, seorang pegawai pemerintah kota berusia 58 tahun yang ikut berunjuk rasa. Ia percaya, "Cepat atau lambat, mereka harus membebaskan presiden kami." Namun, di sisi lain, Perdomo juga mendukung kepemimpinan sementara Delcy Rodriguez. Rodriguez sendiri berada di posisi yang sulit, harus menenangkan pendukung Maduro sambil memenuhi tuntutan Presiden AS Donald Trump.
Trump menegaskan siap bekerja sama dengan Rodriguez, asalkan Caracas memenuhi syarat Washington, terutama terkait penguasaan cadangan minyak Venezuela yang melimpah ruah. Menanggapi situasi ini, Rodriguez mengambil langkah konsiliasi dengan Washington. Ia juga menjanjikan reformasi dan rekonsiliasi di dalam negeri, terbukti dengan pembebasan ratusan tahanan politik dan pembukaan sektor hidrokarbon nasional untuk investasi swasta. Ironisnya, di hari yang sama, ratusan mahasiswa dan keluarga tahanan politik juga menggelar aksi terpisah. Mereka menuntut percepatan pengesahan undang-undang amnesti yang dijanjikan Rodriguez untuk membebaskan narapidana dari penjara. Sayangnya, regulasi amnesti itu hingga kini belum juga dibawa ke parlemen.
Insiden penculikan dan gejolak ini menunjukkan betapa gentingnya situasi di Venezuela. Selain mengancam stabilitas politik, isu ini juga mempertaruhkan kedaulatan sebuah negara di tengah intervensi asing. Tuntutan AS terhadap cadangan minyak Venezuela bisa memperparah krisis, memicu ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik. Di tengah semua ini, upaya Rodriguez untuk menyeimbangkan kepentingan domestik dan tekanan internasional menjadi kunci bagi masa depan Venezuela yang masih penuh tanda tanya.