Invasi darat Israel ke Lebanon Selatan kian brutal. Empat tentara Israel dilaporkan tewas dalam pertempuran sengit melawan pejuang Hizbullah di awal pekan ini. Korban jiwa di kedua pihak terus berjatuhan seiring perluasan operasi militer Israel yang kini menargetkan “zona penyangga” hingga Sungai Litani dan bahkan memicu seruan aneksasi dari kelompok garis keras Israel.
Konflik di perbatasan Israel-Lebanon memanas tajam. Militer Israel mengumumkan, empat tentaranya tewas dalam baku tembak di Lebanon selatan, lokasi pasukannya berhadapan langsung dengan pejuang Hizbullah. Insiden ini menambah daftar panjang korban, dengan total sepuluh tentara Israel tewas sejak konflik kembali memanas 2 Maret lalu, menyusul serangan gabungan AS-Israel ke Iran.
Di sisi Lebanon, dampaknya jauh lebih parah. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat, lebih dari 1.200 orang tewas akibat serangan Israel, dan lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi. Situasi kemanusiaan semakin memprihatinkan setelah dua pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) juga tewas akibat ledakan misterius, sehari setelah seorang pasukan perdamaian lainnya tewas akibat proyektil di wilayah selatan Lebanon.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin lalu memerintahkan perluasan invasi darat. Tujuannya jelas: mendorong pasukan lebih dalam untuk menciptakan 'zona penyangga' yang membentang hingga Sungai Litani. Tak hanya itu, para menteri sayap kanan Israel bahkan mendesak Netanyahu untuk mencaplok Lebanon selatan, seiring upaya militer menghancurkan jembatan dan rumah-rumah, praktis mengisolasi wilayah tersebut dari sisa negara.
Kini, Israel juga membuka front baru di Lembah Bekaa, Lebanon, menargetkan jalan-jalan yang menghubungkan kota-kota basis Hizbullah dan jalur pasokan strategis kelompok tersebut. Menurut koresponden Al Jazeera Zeina Khodr, militer Israel berupaya mengisolasi Bekaa barat dari Lebanon selatan. Sekjen Hizbullah Naim Qassem mengakui ketidakseimbangan kekuatan dan sulitnya menghentikan invasi ini, namun ia menegaskan, Hizbullah akan berjuang keras untuk membuat perang ini menjadi sangat 'mahal' bagi Israel, baik dari segi korban jiwa maupun sumber daya.
Perluasan konflik ini tak lepas dari perang yang lebih besar antara AS-Israel melawan Iran, yang telah menewaskan lebih dari 1.340 orang sejak 28 Februari. Bahkan, harian Israel Hayom melaporkan bahwa Netanyahu telah menegaskan kepada pejabat senior AS, kesepakatan apa pun antara AS dan Teheran tidak akan menghentikan perang Israel di Lebanon. Ini diperkuat oleh pernyataan Menteri Keuangan sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich, yang menyebut perang di Lebanon 'harus berakhir dengan realitas yang sama sekali berbeda', termasuk 'perubahan perbatasan Israel'. Ambisi Israel yang makin terbuka ini jelas menimbulkan kekhawatiran serius akan stabilitas regional dan nasib rakyat Lebanon di masa depan.