Musim hujan monsun akhirnya tiba di Kerala, India bagian tenggara, namun terlambat tiga hari dari jadwal biasanya. Badan Meteorologi India mengonfirmasi hujan mulai mengguyur wilayah tersebut, membawa sedikit kelegaan di tengah kekhawatiran akan dampak El Nino.
Monsun sangat krusial bagi ekonomi India yang bernilai 4 triliun dolar AS. Musim ini memasok sekitar 70 persen kebutuhan air untuk pertanian, termasuk tanaman utama seperti kapas, kedelai, tebu, beras, dan jagung. Tak hanya itu, hujan monsun juga mengisi ulang akuifer dan waduk di seluruh negeri.
Badan Meteorologi India memperkirakan dalam dua-tiga hari ke depan, monsun akan meluas ke Laut Arab bagian tengah, Goa, sebagian Maharashtra, Andhra Pradesh, dan Tamil Nadu. Namun, kekhawatiran justru muncul karena prediksi El Nino pada 2026 bisa membuat musim hujan menjadi yang terkering dalam 11 tahun terakhir.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut probabilitas terjadinya El Nino pada Juni-Agustus mencapai 80 persen. Fenomena iklim ini memanaskan suhu permukaan laut Pasifik, memicu cuaca ekstrem dan pola hujan yang kacau. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan, 'El Nino sedang tiba di depan pintu kita. Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim yang mendesak.'
Dampaknya jelas: jika El Nino benar-benar terjadi, gagal panen bisa meluas, harga pangan melonjak, dan pertumbuhan ekonomi India yang sudah melambat bakal tertekan lebih dalam. Ini bukan hanya masalah India, tapi juga rantai pasok global karena India adalah eksportir beras dan gula utama dunia.