Aplikasi Sora, platform berbagi video pendek berbasis kecerdasan buatan (AI) besutan OpenAI, resmi disuntik mati. Keputusan ini datang mendadak, hanya beberapa bulan setelah Sora sempat viral dan memicu perdebatan sengit di Hollywood serta kalangan ahli terkait potensi penyalahgunaan teknologi deepfake.
OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT yang menggemparkan dunia, mengumumkan penutupan Sora melalui media sosial pada Selasa lalu. Mereka berjanji akan memberikan informasi lebih lanjut mengenai cara pengguna bisa menyelamatkan konten video yang sudah dibuat. Padahal, Sora sempat digadang-gadang sebagai pesaing TikTok, YouTube, dan Instagram, dengan ambisi merebut perhatian sekaligus potensi pundi-pundi iklan dari video pendek.
Namun, di balik popularitasnya, Sora juga menuai kritik tajam. Berbagai kelompok advokasi, akademisi, dan pakar AI menyuarakan kekhawatiran serius akan bahaya pembuatan video AI yang bisa diinput sesuka hati, seperti gambar nonkonsensual, deepfake super realistis, hingga 'AI slop' atau konten AI berkualitas rendah yang membanjiri internet. OpenAI bahkan sempat direpotkan dengan kasus konten AI yang melibatkan tokoh publik seperti Michael Jackson dan Martin Luther King Jr., yang memicu protes dari pihak keluarga dan serikat aktor.
Keputusan mengejutkan ini juga menyeret Disney. Raksasa hiburan itu sebelumnya punya kesepakatan senilai $1 miliar dengan OpenAI untuk memanfaatkan karakter ikoniknya di Sora. Menurut laporan Reuters, tim Disney bahkan masih bekerja sama dengan OpenAI pada proyek terkait Sora hanya 30 menit sebelum pengumuman penutupan. Ini jelas menjadi 'pukulan telak' bagi Disney, meski disebutkan bahwa transaksi keuangan senilai $1 miliar itu belum sempat rampung.
Langkah OpenAI ini mengindikasikan pergeseran strategi bisnis yang signifikan. Perusahaan kini memilih untuk fokus pada area yang dianggap lebih menguntungkan, seperti alat bantu coding dan pelanggan korporat. Penutupan Sora yang terkesan buru-buru ini juga bisa jadi sinyal adanya 'pembersihan' internal menjelang rencana IPO (penawaran saham perdana) OpenAI yang disebut-sebut bisa terjadi akhir tahun ini. Ini menegaskan bahwa meski inovasi AI melaju pesat, pertimbangan etika, potensi penyalahgunaan, dan tentunya profitabilitas jangka panjang akan selalu jadi penentu arah langkah raksasa teknologi.