Situasi energi global makin genting! Para anggota Badan Energi Internasional (IEA) akhirnya sepakat menguras 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka. Keputusan drastis pada 11 Maret ini menjadi pelepasan terbesar dalam sejarah IEA, menunjukkan betapa seriusnya krisis pasokan yang melanda dunia.
Pemicu utama krisis ini adalah blokade Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global dari Teluk menuju pasar dunia. Pemblokiran ini merupakan buntut dari memanasnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai sejak 28 Februari lalu, di mana perairan Selat Hormuz masuk dalam wilayah teritorial Iran.
Dampak blokade ini langsung terasa: harga minyak Brent mentah melonjak melewati 100 dolar AS per barel, jauh di atas harga pra-konflik sekitar 65 dolar AS. Tak hanya itu, beberapa negara produsen minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait juga memangkas produksi mereka menyusul serangan Iran terhadap infrastruktur energi di Teluk dalam tiga minggu terakhir. Ini tentu saja memperparah kekhawatiran akan ketersediaan pasokan.
Pemerintahan Presiden AS Trump sempat mencoba berbagai cara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Mulai dari mengajak negara-negara Barat mengirim kapal perang pengawal (yang tak direspons), hingga memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka selat atau menghadapi serangan AS terhadap pembangkit listriknya. Namun, Iran tak gentar. Tehran balik mengancam akan menyerang pembangkit listrik di Israel dan fasilitas regional yang menyuplai listrik ke aset militer AS. Bahkan, Iran menegaskan akan menutup total Selat Hormuz jika serangan AS terhadap infrastruktur energinya berlanjut.
Menariknya, di tengah ketegangan, Trump pada Senin lalu justru mengisyaratkan adanya kemunduran. Ia memerintahkan penundaan serangan AS ke pembangkit listrik Iran selama lima hari dan mengklaim sedang mengadakan pembicaraan dengan Iran, sebuah klaim yang langsung dibantah oleh pihak Tehran.
Langkah IEA untuk melepas cadangan minyak darurat ini merupakan respons terhadap kekacauan pasar global. Cadangan minyak strategis sendiri adalah stok minyak mentah darurat yang disimpan pemerintah untuk digunakan dalam situasi krisis, seperti perang atau krisis ekonomi. Anggota IEA saat ini memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan publik dan 600 juta barel cadangan industri. Pelepasan 400 juta barel ini bahkan jauh lebih besar dari 182 juta barel yang dilepas pada tahun 2022 saat Rusia menginvasi Ukraina.
Analisis singkat: Meskipun pelepasan cadangan ini menjadi penyelamat sementara, skala krisis yang disebabkan oleh Selat Hormuz sangatlah besar. Ini menunjukkan kerentanan pasokan energi global terhadap konflik geopolitik di wilayah kunci. Bagi masyarakat, dampak langsungnya adalah potensi kenaikan harga bahan bakar dan komoditas, yang bisa memicu inflasi dan menekan daya beli. Langkah IEA ini mungkin bisa menahan lonjakan harga dalam jangka pendek, namun jika konflik di Selat Hormuz berlarut-larut, tantangan stabilitas energi dan ekonomi global akan semakin berat. Dunia perlu mencari solusi jangka panjang, bukan hanya solusi tambal sulam.