Pemilihan Ghali, rapper kelahiran Milan berdarah Tunisia, untuk tampil di upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina 2026 pada 6 Februari mendatang, telah menyulut polemik panas di Italia. Ghali menjadi sorotan karena pernyataan-pernyataannya yang mengkritik keras konflik di Gaza, bahkan sempat menyerukan "hentikan genosida" dalam sebuah ajang musik populer dua tahun lalu.
Partai Liga, kelompok sayap kanan yang merupakan bagian dari pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni, menentang keras keputusan ini. Mereka bahkan menyebut Ghali sebagai "fanatik pro-Palestina" yang anti-Israel. Namun, Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, meski tidak sependapat dengan pandangan Ghali, menyatakan bahwa sebuah negara harus mampu menerima ekspresi seniman yang memiliki opini berbeda, dengan harapan Ghali tidak akan menggunakan panggung Olimpiade untuk menyampaikan pesan politik.
Kontroversi ini menjadi bukti lain bagaimana olahraga dan politik sering kali tak terpisahkan. Ini menunjukkan sensitivitas tinggi seputar isu geopolitik yang kini semakin sering menyeruak ke ranah acara internasional. Ghali sendiri diperkirakan akan menarik perhatian penonton muda, berbeda dengan penampil lain seperti tenor Andrea Bocelli atau penyanyi pop Amerika Mariah Carey. Insiden serupa juga pernah terjadi saat penyanyi pop Franco-Mali, Aya Nakamura, menjadi target pelecehan rasial karena rencana penampilannya di Olimpiade Paris 2024, menggarisbawahi tantangan bagi penyelenggara acara besar dalam menyeimbangkan kebebasan berekspresi dan menghindari polarisasi politik.