Piala Dunia 2026 yang semestinya jadi ajang unjuk gigi sepak bola, kini diwarnai ancaman boikot dari Iran. Timnas Iran mengancam tak akan bertanding di Amerika Serikat akibat ketegangan geopolitik yang memanas. Padahal, Selandia Baru, lawan perdana mereka, siap bermain di mana saja demi kelangsungan turnamen.
Ancaman ini muncul pasca-kualifikasi Iran ke putaran final. Mereka dijadwalkan bermain semua laga fase grup di AS, termasuk melawan Selandia Baru pada 15 Juni di Los Angeles, Belgia di Los Angeles, dan Mesir di Seattle. Federasi Sepak Bola Iran tegas menyatakan penolakan untuk berlaga di tanah AS.
Para pemain Selandia Baru, dijuluki All Whites, menunjukkan sikap fleksibel. Gelandang Ryan Thomas bahkan menyebut tidak masalah jika harus bermain di Meksiko atau Kanada. Mereka yakin Iran layak berada di Piala Dunia dan persiapan timnya tak akan terganggu oleh lokasi pertandingan.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, sudah menyatakan kesediaannya untuk menjadi tuan rumah laga-laga Iran jika diperlukan. Namun, keputusan akhir sepenuhnya ada di tangan FIFA. Hingga kini, FIFA belum berkomentar langsung soal opsi pemindahan lokasi, namun terus berkomunikasi dengan Federasi Sepak Bola Iran, berharap jadwal pertandingan saat ini tetap berjalan.
Winger Kosta Barbarouses mengakui ada kekhawatiran soal keamanan, terutama bagi keluarga pemain, di Los Angeles. Namun, ia percaya pihak berwenang akan menjamin keselamatan. Situasi ini bukan hanya soal lokasi pertandingan, tapi juga cerminan bagaimana dinamika politik global bisa merembet ke ajang olahraga terbesar. Jika boikot terjadi, ini akan jadi pukulan telak bagi FIFA dan integritas turnamen, serta berpotensi menimbulkan preseden baru. Penting untuk diingat, keputusan final ada di tangan FIFA yang harus menyeimbangkan diplomasi, keamanan, dan kelancaran turnamen.