Pada 13 Maret lalu, tiga lokasi di Pakistan diserang drone. Insiden ini menyebabkan dua anak terluka di Quetta, serta melukai warga sipil lainnya di Kohat dan Rawalpindi, kota garnisun yang menjadi markas besar angkatan bersenjata Pakistan dan berdekatan dengan ibu kota Islamabad. Meski militer Pakistan mengklaim berhasil mencegat drone sebelum mencapai target, Presiden Asif Ali Zardari menegaskan Kabul telah “melanggar batas merah dengan mencoba menargetkan warga sipil kami.”
Ini bukan kali pertama. Akhir Februari, sistem anti-drone berhasil menjatuhkan drone kecil di Abbottabad, Swabi, dan Nowshera di Khyber Pakhtunkhwa. Bahkan, sebuah masjid di Bannu, provinsi yang sama, dihantam quadcopter hingga melukai lima pria.
Kelompok Taliban di Afghanistan memang mengklaim telah menargetkan instalasi militer di Rawalpindi dan Islamabad dalam serangan terbaru. Namun, militer Pakistan menepis klaim tersebut sebagai propaganda, seraya menyebut drone itu "rudimenter" dan "buatan lokal". Meski demikian, para analis melihat pola yang kian mengkhawatirkan: drone terbang di atas kota garnisun, tempat ibadah, dan pusat kota.
Abdul Basit, peneliti senior di International Centre for Political Violence and Terrorism Research (ICPVTR) Singapura, menekankan, “Bukan soal seberapa canggih drone itu, tapi intinya adalah drone datang, dan mereka datang ke ibu kota. Itu bahaya utamanya.” Bagi kalangan keamanan Pakistan, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah drone ini menimbulkan kerusakan signifikan, melainkan apakah kemampuan mereka menembus jauh ke dalam negeri, di tengah “perang terbuka” tiga minggu dengan Afghanistan, menunjukkan celah dalam kesiapan pertahanan Pakistan terhadap ancaman perang masa depan.
Eskalasi ini bukan tanpa sebab. Pakistan tengah menghadapi salah satu periode paling mematikan dalam hampir satu dekade terakhir. Serangan kelompok bersenjata, khususnya oleh Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), terkonsentrasi di provinsi Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan. Pakistan bersikeras bahwa TTP adalah sekutu ideologis Taliban di Afghanistan, dan menuduh Taliban Afghanistan telah memberikan perlindungan serta dukungan dalam serangan TTP di tanah Pakistan. Tuduhan yang selalu dibantah keras oleh Taliban.
Pemerintah Pakistan sendiri telah merespons dengan memberlakukan larangan terbang drone nasional dan membatasi sementara wilayah udara di atas ibu kota. Namun, dengan penetrasi drone yang semakin dalam dan klaim pihak yang bertikai, tantangan keamanan Pakistan semakin kompleks, menuntut strategi yang lebih komprehensif untuk melindungi warga dan kedaulatan negara dari ancaman yang terus berkembang ini.