VIENNA – Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memberikan pernyataan mengejutkan. Ia menegaskan bahwa kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 yang dikenal dengan JCPOA sudah tidak relevan lagi. Menurut Grossi, model lama itu sudah tidak bisa diterapkan di tengah situasi geopolitik saat ini.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Grossi menjelaskan bahwa kemampuan teknologi nuklir Iran sudah jauh melesat. "Kenyataan di lapangan sudah berbeda total. Iran kini memiliki kapasitas dan pengetahuan yang lebih canggih dibandingkan satu dekade lalu. Perjanjian baru harus mencerminkan realitas ini," ujarnya.
Grossi juga menyoroti dampak konflik terbaru di kawasan Timur Tengah. Ia menilai ketegangan yang ada justru mempercepat pengembangan program nuklir Iran. Hal ini membuat negosiasi yang akan datang diprediksi akan jauh lebih rumit dan memakan waktu.
Analisis Dampak: Pernyataan ini menandakan kegagalan diplomasi Barat dalam mengendalikan ambisi nuklir Teheran. Jika tidak ada kesepakatan baru yang mengikat, risiko proliferasi nuklir di Timur Tengah akan meningkat. Negara-negara tetangga seperti Arab Saudi dan UEA bisa terpicu untuk mengembangkan program nuklir mereka sendiri demi keseimbangan kekuatan. Ini akan menjadi ancaman serius bagi stabilitas global.