Milan bergejolak! Ratusan pelajar dan aktivis tumpah ruah di jalanan kota mode itu untuk menolak kehadiran agen imigrasi Amerika Serikat (ICE). Demonstrasi masif ini terjadi menjelang pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina, Jumat lalu.
Para demonstran membawa spanduk nyeleneh bertuliskan, “ICE seharusnya ada di minumanku, bukan di kotaku!” Protes ini sebagai bentuk reaksi atas kehadiran pejabat Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang ditugaskan mengamankan delegasi AS. Bagi para pengunjuk rasa, kehadiran ICE merupakan simbol dari kebijakan deportasi brutal di era Presiden AS Donald Trump yang pernah memicu amarah global, terutama setelah insiden penembakan fatal pada dua warga AS dan penangkapan seorang anak lima tahun beserta ayahnya.
Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Piantedosi, sebenarnya sudah mencoba menenangkan situasi. Pekan ini, ia bersikeras bahwa agen Homeland Security Investigations (HSI), yang merupakan divisi terpisah dari ICE yang terlibat dalam kebijakan deportasi Trump, hanya akan beroperasi di lingkungan misi diplomatik AS. Menurutnya, para pejabat ini “bukan agen operasional” dan “tidak memiliki fungsi eksekutif” di Italia.
Namun, penjelasan itu tidak mempan bagi para mahasiswa Milan. Mereka turun ke jalan dengan peluit plastik, yang sudah menjadi simbol protes anti-ICE di AS. Mereka juga terang-terangan menyerukan agar Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang sedang berkunjung, segera angkat kaki. Giacomo Calvi, salah satu pengunjuk rasa, kepada AFP mengatakan ia memprotes “polisi anti-imigrasi AS yang melakukan segala jenis kekerasan di Amerika Serikat.”
Kunjungan Vance sendiri terjadi di tengah hubungan AS dengan Eropa yang masih tegang di bawah bayang-bayang pemerintahan Trump, yang sempat mengklaim Eropa menghadapi 'penghapusan peradaban' akibat migrasi massal. Meski begitu, Wakil Presiden AS dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni—yang dikenal dekat dengan Trump—tetap memuji “nilai-nilai bersama” mereka pada hari Jumat, bahkan Meloni menyebut Olimpiade sebagai ajang yang menyatukan Italia, AS, dan ‘peradaban Barat’.
Protes ini menunjukkan sentimen publik yang kuat di Eropa terhadap kebijakan imigrasi keras AS. Kehadiran agen ICE, meskipun hanya untuk pengamanan delegasi dan dijamin tak beroperasi penuh oleh pemerintah Italia, tetap dianggap sebagai representasi simbolik dari kebijakan kontroversial yang memicu kemarahan global. Ini menegaskan bahwa isu-isu domestik AS bisa dengan mudah merembet ke panggung internasional dan memicu perlawanan publik, bahkan di tengah upaya menjaga hubungan diplomatik antar negara.