KYIV, UKRAINA – Analisis medan perang terbaru menunjukkan pasukan Rusia mulai kewalahan. Sejak Desember lalu, militer Rusia memang masih bisa melancarkan serangan, tapi mereka kesulitan mempertahankan wilayah yang sudah direbut. Ukraina justru semakin galak, berhasil menghambat jalur logistik dan personel Rusia di berbagai lini depan, dari Zaporizhzhia hingga Kharkiv.
Ukraina juga terus memperluas serangan ke wilayah jantung Rusia. Mereka menargetkan kilang minyak dan pabrik amunisi, bahkan berani menghujani kota St. Petersburg saat Presiden Vladimir Putin tiba di forum ekonomi bergengsi. Momen ini dimanfaatkan Presiden Volodymyr Zelensky untuk mengirim surat terbuka, menantang Putin berunding langsung.
“Sumber dayamu semakin menipis. Kamu tidak akan punya cukup uang dan kekuatan politik untuk terus membeli loyalitas rakyat Rusia,” tulis Zelensky dalam suratnya, mengacu pada 26 tahun kekuasaan Putin. Namun, Kremlin memilih bungkam dan tidak mengakui situasi buruk di medan perang.
Meski begitu, Zelensky mengakui satu keunggulan Rusia: rudal balistik. Rusia memproduksi 120 rudal balistik per bulan—dua kali lipat dari jumlah rudal Patriot buatan AS. Pada 2 Juni lalu, Rusia meluncurkan 656 drone dan 73 rudal ke area sipil Ukraina, menewaskan 23 orang. Ukraina memang berhasil mencegat 91,7% drone dan 90,6% rudal jelajah, tapi hanya 27% rudal balistik yang bisa dihentikan.
“Rudal balistik adalah argumen terakhir Rusia dalam perang ini,” tulis Zelensky. Ia meminta AS mengizinkan Ukraina memproduksi sistem Patriot di bawah lisensi. Permintaan itu ditolak, tapi Zelensky berjanji akan membuat versi buatan sendiri pada akhir 2027.
Sementara itu, untuk pertama kalinya, Ukraina mengumumkan kendali api atas lima kota di wilayah Luhansk yang diduduki Rusia. Artinya, mereka kini bisa menghantam kendaraan lapis baja dan depot amunisi hingga ke perbatasan Rusia, sekitar 205 kilometer dari garis depan.