Edinburgh, Skotlandia – Gelombang protes dukungan untuk Palestina di Skotlandia berujung pada kriminalisasi massal. Lebih dari 3.300 orang telah ditangkap di seluruh Inggris Raya sejak aksi boikot terhadap aksi kelompok Palestine Action (PA) diberlakukan pada Juli 2025.
Salah satu yang terkena dampak adalah Cathy Allen, seorang wanita berusia 70 tahun. Ia ditangkap hanya karena memegang plakat bertuliskan 'Saya menentang genosida, saya mendukung Palestine Action' di Edinburgh. Kasusnya kini akan disidangkan di Pengadilan Tinggi Skotlandia. Allen dan rekannya, Justin Kenrick, berargumen bahwa penangkapan mereka melanggar hak kebebasan berekspresi dan berkumpul.
Data dari lembaga investigasi The Detail menunjukkan bahwa dari total 193 tuduhan terorisme di Skotlandia sejak tahun 2000, sebanyak 103 di antaranya terkait dengan Palestine Action. Angka ini mencengangkan karena lebih dari setengahnya. Saat ini, masih ada 54 kasus aktif yang menunggu proses hukum.
Yang lebih mengkhawatirkan, aksi damai pun dianggap kriminal. Kelompok Defend Our Juries mencatat, 24 orang didakwa hanya karena memegang plakat, dan 16 orang lainnya terancam hukuman karena mengenakan kaus bertuliskan 'Genosida di Palestina. Waktunya Bertindak.'
Dampak dan Analisis: Situasi ini menimbulkan ketakutan di kalangan aktivis. Banyak yang menyebut langkah pemerintah sebagai 'kriminalisasi terhadap solidaritas'. Pakar hukum menilai ini sebagai bentuk 'overreach' atau tindakan berlebihan yang tidak liberal. Padahal, aksi solidaritas adalah hak dasar demokrasi. Jika tren ini terus berlanjut, kebebasan sipil di Inggris terancam tergerus, dan suara rakyat untuk perdamaian dibungkam dengan tuduhan terorisme.