Dunia kriket mendadak gempar. Sekelompok legenda kriket internasional bersatu menyuarakan keprihatinan mendalam. Mantan kapten Pakistan sekaligus eks Perdana Menteri, Imran Khan, dilaporkan mengalami penurunan kesehatan serius di balik jeruji besi, bahkan dikabarkan kesulitan mendapat perawatan medis yang layak. Apa sebenarnya yang terjadi di balik tembok penjara Pakistan, dan mengapa ikon olahraga dunia ini menjadi sorotan?
Sebanyak 14 mantan kapten kriket dunia, termasuk nama-nama besar seperti Sunil Gavaskar, Kapil Dev, Clive Lloyd, Allan Border, dan Greg Chappell, mengirimkan surat terbuka yang mengguncang. Mereka mendesak pemerintah Pakistan untuk segera memberikan perhatian medis yang memadai bagi Imran Khan. Surat yang terbit di media Australia itu menyoroti kondisi kesehatan Khan yang kian memburuk serta dugaan perlakuan tidak pantas selama penahanannya sejak Agustus 2023.
Laporan yang beredar menyebutkan, penglihatan mata kanan Khan memburuk drastis, bahkan hanya tersisa 15 persen. Sebuah laporan pengacara yang ditunjuk pengadilan mengklaim, keluhan Khan selama tiga bulan diabaikan, berujung pada hilangnya penglihatan secara tiba-tiba di mata kanannya. Ironisnya, pihak pemerintah Pakistan melalui tim medisnya justru mengklaim ada peningkatan signifikan dalam penglihatan Khan. Namun, klaim ini langsung dibantah keras oleh keluarga Khan. Aleema Khan, adik Imran, menegaskan bahwa tanpa kehadiran dokter pribadi dan perwakilan keluarga, setiap klaim pemerintah mengenai kondisi medis atau perawatan kakaknya tidak dapat diterima.
Kasus Imran Khan ini bukan sekadar masalah kesehatan pribadi. Ia adalah tokoh yang sangat populer, pahlawan Piala Dunia Kriket 1992, dan mantan Perdana Menteri yang digulingkan pada 2022 lewat mosi tidak percaya. Ia ditahan atas puluhan tuduhan yang kerap disebut bermotif politik. Desakan dari legenda kriket global ini bukan hanya menyoroti kondisi kesehatan Khan, tetapi juga menambah tekanan internasional terhadap pemerintah Pakistan terkait penanganan tahanan politik berprofil tinggi dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia. Situasi ini bisa memicu gejolak baru di tengah ketegangan politik Pakistan yang belum usai.