Ukraina kini menghadapi krisis rekrutmen tentara yang makin parah. Seiring korban jiwa dan luka yang terus berjatuhan di garis depan sepanjang 1.250 kilometer, unit-unit militer mulai putar otak mencari cara unik untuk menarik calon prajurit.
Salah satu contoh paling mencolok adalah munculnya poster 'Sekolah Desain Lansekap Azov' di gerbong kereta bawah tanah dan papan reklame di Kyiv. Bukannya menampilkan tukang kebun dengan bunga-bunga, poster itu justru menampilkan seorang tentara Azov Corps tersenyum dengan howitzer yang siap 'mendesain' lanskap di sisi musuh. Ini menggambarkan bagaimana unit militer berlomba-lomba dengan slogan jenaka, kampanye di media sosial, dan pesan teks yang menjanjikan pelatihan matang untuk mengurangi risiko kematian, atau bahkan pekerjaan di belakang garis depan.
Bagi pria Ukraina berusia 25 hingga 60 tahun yang tak bisa menghindar dari wajib militer, pilihannya berat: bergabung dengan unit yang menawarkan pelatihan layak, atau berisiko ditarik paksa oleh 'patroli wajib militer'. Jika ditarik paksa, pelatihan yang mereka terima bisa sangat minim, dan mereka langsung diterjunkan sebagai pasukan penyerang garis depan dengan risiko kematian yang sangat tinggi. Kondisi ini membuat ratusan ribu pria memilih menghindari wajib militer, menyuap, atau kabur ilegal ke negara-negara Eropa, diperparah oleh dugaan korupsi di kalangan petugas rekrutmen.
Situasinya sangat berbeda dengan awal invasi Rusia di 2022, di mana banyak pria antre panjang untuk jadi sukarelawan. Kini, relawan semakin langka. Usia rata-rata rekrutan baru telah melampaui 40 tahun, dengan tingkat kebugaran yang menurun drastis. Seorang perwira anonim bahkan menyebut bahwa mereka 'mendapatkan sisa-sisa dari yang tersisa,' terutama untuk posisi infanteri yang paling sulit diisi.
Meskipun kampanye rekrutmen begitu gencar, proses pendaftarannya justru tidak transparan. Sebagian besar aplikasi harus diisi secara daring, dan hanya calon terpilih yang diundang ke kantor rekrutmen yang lokasinya dirahasiakan karena rawan menjadi target serangan drone Rusia. Di antara semua unit, Azov (kini dikenal sebagai Korps Pengawal Nasional Pertama) dan Brigade Badai Ketiga menjadi primadona karena dianggap mampu menarik kandidat terbaik.
Kondisi ini jelas menjadi tantangan serius bagi Ukraina dalam menjaga kekuatan militernya di tengah perang yang berkepanjangan. Penurunan kualitas rekrutan dan sulitnya mencari infanteri berkualitas bisa berdampak signifikan pada kemampuan pertahanan dan serangan di garis depan. Selain itu, maraknya praktik suap dan rekrutmen paksa berpotensi mengikis moral publik dan kepercayaan terhadap pemerintah, menciptakan tekanan internal yang tidak kalah berat dari ancaman eksternal. Ini menunjukkan bahwa Ukraina tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga menghadapi perjuangan berat untuk mempertahankan dukungan dan sumber daya manusianya.