Shanghai, China – Di tengah tekanan hidup dan tuntutan orang tua, anak muda China kini mencari pelarian ke 'orang tua virtual' di media sosial. Tren ini viral di platform Douyin, di mana pasangan kreator konten seperti Pan Huqian dan Zhang Xiuping berperan sebagai orang tua yang penuh kasih sayang bagi ribuan pengikut mereka.
Dalam video mereka, 'orang tua virtual' ini menyapa pengikut dengan panggilan 'anak', memberikan kata-kata penyemangat seperti 'Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Ibu dan Ayah tahu kamu sudah berjuang keras'. Mereka memiliki hampir dua juta pengikut di Douyin, versi TikTok di China.
Vincent Zhang, seorang pekerja teknologi di Shanghai, mengaku lebih nyaman curhat kepada 'orang tua virtual' daripada orang tuanya sendiri. 'Orang tua kandung saya tidak pernah bilang saya sudah cukup baik. Tapi orang tua virtual selalu bertanya apakah saya bahagia hari ini,' ujarnya.
Fenomena ini mencerminkan kesenjangan emosional yang dialami generasi muda China. Mereka tumbuh di era kemakmuran ekonomi, namun kini terjepit antara ambisi pribadi, tekanan sosial, dan ekspektasi keluarga. Tingkat pengangguran anak muda di China yang bertahan di atas 15% selama beberapa tahun terakhir semakin memperparah kondisi ini.
Pan Huqian, sang kreator, mengaku membuat konten ini karena pengalaman pahit masa kecilnya. Ia meninggalkan rumah di usia 14 tahun untuk mencari nafkah setelah ibunya lumpuh. 'Selama 33 tahun, orang tua saya tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dukungan,' katanya. Kini, ia memastikan putrinya selalu mendapat kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan.
Para psikolog menilai tren ini sebagai bentuk coping mechanism atau mekanisme bertahan di tengah tekanan mental yang tinggi. Meski memberikan kenyamanan sementara, para ahli mengingatkan bahwa hubungan dengan 'orang tua virtual' tidak bisa menggantikan ikatan asli dengan keluarga.