Dunia sepak bola Afrika bergejolak! Federasi Sepak Bola Afrika (CAF) bikin keputusan yang mengejutkan, mencopot gelar juara Piala Afrika (AFCON) 2025 dari Senegal dan menyerahkannya kepada Maroko. Kontroversi besar ini langsung memicu ancaman banding dari Senegal, menandai babak baru perseteruan sengit.
Persoalan ini bermula dari insiden panas di final AFCON pada 18 Januari lalu. Saat itu, para pemain Senegal sempat walk-out dari lapangan selama 14 menit. Aksi protes mereka dilatarbelakangi oleh serangkaian keputusan wasit yang dinilai merugikan, terutama penalti kontroversial untuk Maroko di menit akhir dan dianulirnya gol Senegal sebelumnya.
Kericuhan tak hanya berhenti di lapangan. Sejumlah suporter Senegal juga nekat masuk ke area pertandingan. Akibatnya, 18 dari mereka ditangkap dan divonis hukuman penjara hingga satu tahun, disertai denda. Bahkan, Perdana Menteri Senegal, Ousmane Sonko, ikut mengecam putusan hukuman bagi warganya tersebut, menunjukkan bahwa masalah ini telah merambah ke ranah politik.
Sebelum keputusan pencopotan gelar, CAF sendiri sudah menjatuhkan sanksi disipliner pada 29 Januari. Senegal dikenai denda lebih dari 1 juta dolar AS, sementara Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) didenda 200 ribu dolar AS, ditambah larangan bermain bagi sejumlah pemain dan pelatih dari kedua tim. Namun, sanksi awal tersebut hanya berlaku untuk pertandingan level Afrika dan tidak memengaruhi kualifikasi Piala Dunia 2026.
Dengan dicabutnya gelar juara dari Senegal, Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) secara tegas menyatakan akan mengajukan banding. Langkah ini diprediksi bakal menjadi babak baru perseteruan panjang yang mungkin akan memakan waktu lebih dari setahun untuk diselesaikan, bahkan berpotensi meluas di luar ranah sepak bola Afrika.
Keputusan kontroversial CAF ini jelas bukan sekadar soal trofi. Ini bisa menggoyahkan kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi di benua tersebut dan menciptakan ketegangan, bahkan potensi konflik diplomatik, antarnegara. Di satu sisi, ini menunjukkan ketegasan CAF, namun di sisi lain, potensi penyelesaian yang berlarut-larut berisiko mencoreng nama baik sepak bola Afrika secara keseluruhan. Intervensi Perdana Menteri Senegal juga mengindikasikan bahwa masalah ini telah melampaui batas olahraga dan memasuki ranah hubungan diplomatik, menambah kompleksitas konflik yang ada.