Tokyo – Bank of Japan (BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuan menjadi 1 persen, level tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Jepang serius meninggalkan era suku bunga super rendah yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Keputusan ini diambil dengan suara 7-1 dalam rapat dewan gubernur pada Selasa (30/7). Kenaikan sebesar 25 basis poin ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 1995, menandai perubahan haluan drastis dari kebijakan moneter ultra-longgar yang selama ini dipakai untuk menyelamatkan ekonomi Jepang dari stagnasi.
BOJ secara eksplisit menyebutkan tekanan harga dari perang antara Amerika Serikat dan Iran sebagai salah satu pemicu. “Kenaikan harga minyak sudah merembes ke transaksi antar bisnis, dan berpotensi mendongkrak harga berbagai barang,” demikian pernyataan resmi BOJ.
Fakta mencengangkan: Jepang mengimpor sekitar 95 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah sebelum perang pecah. Ini membuat Jepang sangat rentan terhadap gejolak harga energi global. Pemerintah Perdana Menteri Sanae Takaichi pun sudah mengeluarkan jurus darurat, mulai dari menguras cadangan minyak strategis hingga memberikan subsidi listrik dan gas untuk rumah tangga.
Menariknya, inflasi inti Jepang (Core CPI) pada April lalu hanya naik 1,4 persen year-on-year. Angka ini masih di bawah target 2 persen yang diidamkan BOJ. Namun bank sentral khawatir inflasi bisa melonjak tak terkendali di masa depan.
Min Joo Kang, Ekonom Senior ING untuk Korea dan Jepang, menilai langkah ini sebagai “pergeseran positif” bagi ekonomi Jepang. “BOJ sekarang melihat target inflasi 2 persen sudah dalam jangkauan. Ini memberi mereka kepercayaan diri untuk menormalisasi kebijakan secara bertahap,” ujarnya.
Kenaikan suku bunga ini menjadi babak baru setelah Jepang terpuruk dalam ‘lost decades’—era pertumbuhan lesu dan deflasi pasca pecahnya gelembung aset di awal 1990-an. Namun, ada secercah harapan. Ekonomi Jepang tumbuh 2,1 persen (annualized) pada kuartal pertama tahun ini, ekspansi tercepat dalam enam kuartal terakhir.