Kabar penahanan Pangeran Andrew Mountbatten-Windsor, adik Raja Charles III, baru-baru ini bikin geger. Ia ditahan selama beberapa jam pada Kamis lalu atas dugaan salah laku dalam jabatan publik, terkait kedekatannya dengan Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seks yang sudah meninggal. Andrew, yang genap berusia 66 tahun di hari penangkapannya, kini tercatat dalam sejarah sebagai anggota Kerajaan Inggris pertama yang ditahan polisi sejak Raja Charles I pada tahun 1647. Sebuah rekor yang tentu saja tak membanggakan bagi institusi kerajaan.
Gelar kebangsawanannya sendiri sudah dicopot tahun lalu akibat dugaan keterlibatannya dalam kasus Epstein. Ia dituding bersama Epstein telah melakukan pelecehan seksual terhadap Virginia Giuffre saat masih remaja di era 1990-an. Giuffre, yang kemudian meninggal dunia akibat bunuh diri setelah mencapai kesepakatan damai dalam gugatannya pada Andrew, pernah bersaksi dipaksa berhubungan seks dengan sang pangeran saat usianya 17 tahun.
Sebelum skandal ini memuncak, Andrew dikenal sebagai utusan perdagangan Inggris dari 2001 hingga 2011. Namun, kariernya di posisi itu juga tak lepas dari kontroversi. Julukan “pangeran pesta” melekat padanya, diiringi kritik atas perilakunya dalam kunjungan luar negeri dan biaya perjalanan mewah yang dibiayai pembayar pajak.
Penahanan Andrew ini bukan satu-satunya noda dalam sejarah panjang Kerajaan Inggris. Monarki memang kerap diguncang skandal, mulai dari Raja Edward VIII yang memilih turun takhta demi menikahi janda Amerika, Wallis Simpson, pada tahun 1936. Bahkan, Ratu Elizabeth II pernah menyebut tahun 1992 sebagai “annus horribilis” atau tahun mengerikan, menyusul serangkaian masalah seperti perceraian tiga anaknya, termasuk Pangeran Charles (kini Raja Charles III) dengan Putri Diana, serta Andrew dengan Sarah Ferguson. Insiden “jempol kaki dicium” Sarah Ferguson oleh penasihat keuangannya juga menambah daftar panjang drama keluarga kerajaan.
Kasus Pangeran Andrew dan bayang-bayang Epstein ini kembali menyoroti kerentanan reputasi monarki di mata publik. Apalagi, jejak Epstein yang meninggal akibat bunuh diri di penjara AS pada 2019, masih meninggalkan pertanyaan besar. Bagi masyarakat, kasus ini bukan hanya tentang keadilan, tapi juga tentang akuntabilitas dan moralitas dari mereka yang berada di puncak kekuasaan, bahkan jika itu adalah keluarga kerajaan.