Kematian mendadak Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memicu goncangan politik di Teheran. Kepala Keamanan Nasional, Ali Larijani, mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara yang akan segera mengambil alih kendali pemerintahan. Langkah cepat ini diambil untuk memastikan stabilitas Iran di tengah tuduhan Larijani terhadap Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik serangan yang menewaskan Khamenei.
Dewan sementara ini akan terdiri dari Presiden, Ketua Mahkamah Agung, dan seorang ahli hukum dari Dewan Konstitusi. Mereka bertiga akan memimpin negara sampai Majelis Ahli memilih Pemimpin Tertinggi yang baru secara definitif. Larijani menegaskan, proses transisi ini akan dimulai pada hari Minggu dan dewan darurat siap bekerja sesegera mungkin.
Dalam pernyataannya, Larijani tak hanya menunjuk jari ke AS dan Israel atas serangan yang menewaskan Khamenei pada Sabtu lalu, namun juga memperingatkan keras kelompok-kelompok separatis di dalam negeri. Ia mengancam akan memberikan pelajaran tak terlupakan jika ada yang mencoba mencari celah di tengah masa krusial ini. Kematian Ali Khamenei setelah hampir 37 tahun berkuasa tentu saja memicu banyak pertanyaan tentang masa depan Iran, terutama di tengah tensi geopolitik kawasan yang semakin memanas.
Transisi kepemimpinan ini, yang diatur ketat oleh Konstitusi Iran Pasal 111, akan sangat menentukan arah kebijakan negara ke depan. Dunia pun menyoroti bagaimana Iran akan menavigasi periode krusial ini, mengingat peran sentralnya di Timur Tengah serta dampaknya terhadap stabilitas regional dan hubungan internasional.