WINA - Sebuah sidang bersejarah digelar di pengadilan Austria. Brigadir Jenderal Khaled al-Halabi, mantan perwira tinggi militer Suriah, mengaku tidak bersalah atas tuduhan menyiksa para pengunjuk rasa anti-rezim Bashar al-Assad.
Bersama Kepala Polisi Letnan Kolonel Musab Abu Rukba, Halabi didakwa melakukan penyiksaan berat, pemaksaan, dan kekerasan seksual. Keduanya terancam hukuman penjara hingga 10 tahun. Sidang perdana digelar Senin (24/6) di Wina, dengan pengamanan ketat polisi bersenjata dan bertopeng.
Menurut jaksa, kejahatan itu terjadi di Kota Raqqa, Suriah, antara April 2011 hingga Maret 2013. Saat itu, Raqqa menjadi pusat perlawanan sipil terhadap Assad. Halabi, yang merupakan seorang Druze, membantah keras tuduhan tersebut. Ia menyatakan tidak pernah menerima instruksi dari Damaskus untuk menggunakan kekerasan.
"Tidak ada instruksi dari pemerintah. Unit saya hanya mencatat data pribadi tahanan, tidak melakukan penyelidikan atau penyiksaan," ujar Halabi melalui penerjemah di ruang sidang.
Namun, jaksa memiliki bukti berbeda. Mereka menyebut Halabi menerima "instruksi langsung" dari rezim Assad dan kekerasan dilakukan secara "sistematis" dengan metode penyiksaan standar, seperti pemukulan dan penyiraman air. Sebanyak 21 orang ditahan dan dianiaya dalam operasi pembubaran protes warga sipil.
Analisis Dampak: Kasus ini menjadi preseden penting. Halabi dianggap sebagai pejabat tinggi Suriah paling senior yang pernah diadili di Eropa atas pelanggaran HAM. Pengadilan di Jerman, Prancis, dan Swedia sebelumnya juga mengadili kasus serupa. Hal ini menandai semakin kuatnya prinsip yurisdiksi universal, di mana pelaku kejahatan perang bisa diadili di negara mana pun, meski kejahatan terjadi di luar negeri.
Kabar baik bagi para korban, sidang dijadwalkan berlangsung hingga 30 Juni. Sejumlah saksi korban yang kini tinggal di Suriah dan Eropa akan memberikan kesaksian. Kelompok pegiat HAM, Commission for International Justice and Accountability (CIJA), menjadi pihak yang pertama kali melaporkan Halabi ke otoritas Austria pada 2016.