NEW YORK – Gelombang kejut mengguncang dunia jurnalisme Amerika Serikat. CBS secara resmi memecat Scott Pelley, jurnalis legendaris program 60 Minutes, pada Selasa (11/2) waktu setempat. Pemecatan ini terjadi hanya sehari setelah Pelley melontarkan kritik keras kepada manajemen baru dalam sebuah rapat staf yang memanas.
Dalam rapat tersebut, Pelley, 68 tahun, menuding Pemimpin Redaksi Bari Weiss sengaja 'membunuh' program berita paling berpengaruh di AS itu. Ia juga meragukan kompetensi produser eksekutif baru, Nick Bilton, yang dinilainya tidak memiliki pengalaman memadai di jurnalisme penyiaran tradisional. Bilton, yang sebelumnya dikenal sebagai jurnalis teknologi dan pembuat film, langsung membalas dengan mengirimkan surat pemecatan. Ia menyebut tindakan Pelley sebagai 'penyergapan' yang tidak profesional.
Pelley buka suara melalui pernyataan resmi. Ia menegaskan bahwa 60 Minutes telah kehilangan jati dirinya di bawah manajemen baru. Lebih jauh, ia mengklaim manajemen memintanya untuk 'menyuntikkan kebohongan dan bias' ke dalam liputan, meski tanpa memberikan detail spesifik. 'Pemilik baru jaringan kami menyingkirkan legenda ini, tampaknya untuk mencari momen dukungan dari pemerintahan Trump,' ujar Pelley.
Pemecatan ini bukan insiden tunggal. Pelley menjadi orang ketujuh yang hengkang dari program mingguan tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, koresponden Sharyn Alfonsi, Cecilia Vega, dan produser Tanya Simon juga dipecat. Alfonsi diketahui sempat mengkritik Weiss karena menunda tayangan soal deportasi ke penjara supermax di El Salvador, yang merupakan bagian dari kebijakan imigrasi keras Trump.
Analisis Dampak: Langkah CBS ini memicu kekhawatiran serius tentang independensi redaksi. Keputusan ini diambil di bawah kepemilikan baru Skydance Media, yang afiliasinya dengan pendukung Trump memicu spekulasi adanya tekanan politik. Sebelum akuisisi selesai, Paramount (pemilik lama CBS) bahkan harus membayar $16 juta untuk menyelesaikan gugatan Trump atas editan wawancara 60 Minutes dengan Kamala Harris. Situasi ini menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers, di mana jurnalis veteran dipecat karena dianggap 'tidak sejalan' dengan arah politik pemilik media.