Dunia dikejutkan pengakuan Dolores Huerta, ikon hak sipil Amerika Serikat, yang kini berani mengungkap pengalaman pahitnya sebagai korban kekerasan seksual oleh rekannya sesama pemimpin buruh legendaris, Cesar Chavez. Pengakuan Huerta, yang disampaikan dalam sebuah pernyataan pada Rabu lalu, sontak mengguncang warisan sejarah perjuangan hak sipil AS.
Pengungkapan berani Huerta, yang kini berusia 96 tahun, dipicu oleh investigasi multidimensi The New York Times. Laporan investigasi tersebut mengungkap pola dugaan pelecehan seksual oleh Chavez, termasuk terhadap anak-anak berusia 12 tahun. Huerta, salah satu dari beberapa wanita yang berbicara, menyatakan ia tak bisa lagi tinggal diam setelah enam puluh tahun menyimpan rahasia tersebut.
"Selama enam puluh tahun ini, saya menyimpan rahasia karena saya percaya mengungkap kebenaran akan melukai gerakan buruh tani yang telah saya perjuangkan seumur hidup," tulis Huerta. Ia mengaku merasa dimanipulasi dan dipaksa oleh Chavez dalam beberapa insiden, bahkan sampai mengalami kehamilan. Huerta menjelaskan, sulit baginya menolak karena Chavez adalah sosok yang ia kagumi, atasannya, dan pemimpin gerakan yang sudah ia geluti bertahun-tahun.
Cesar Chavez, yang wafat pada 1993, dikenal sebagai salah satu pendiri National Farm Workers Association bersama Huerta. Ia dipuja sebagai pahlawan hak sipil tahun 1960-an berkat metode protes non-kekerasan yang terinspirasi Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. Perjuangannya membela hak-hak pekerja migran rentan, terutama komunitas Hispanik dan Filipina-Amerika, sangat monumental. Slogan "si, se puede" (ya, kita bisa) bahkan diadopsi oleh Barack Obama.
Kini, aktivis dan politisi menyerukan pencabutan gelar kehormatan Chavez, memicu perdebatan sengit tentang bagaimana masyarakat harus menilai pahlawan sejarah di tengah tuduhan kejahatan serius. Skandal ini menghadirkan dilema besar: apakah warisan perjuangan yang besar bisa menghapus dosa-dosa pribadi? Kisah Huerta menjadi pengingat pahit bahwa di balik narasi kepahlawanan, bisa tersembunyi kebenaran yang gelap dan menyakitkan, sejalan dengan gelombang gerakan #MeToo yang terus menggulirkan reformasi moral di berbagai sektor.