ADDIS ABABA, ETIOPIA — Rakyat Ethiopia mulai memberikan suara mereka dalam pemilihan parlemen dan daerah, Senin (19/5). Perdana Menteri Abiy Ahmed diprediksi bakal menang telak, meski kondisi negara diliputi konflik di banyak wilayah.
Lebih dari 50 juta orang terdaftar sebagai pemilih. Namun, pemungutan suara tidak akan berlangsung di wilayah utara Tigray. Komisi Pemilihan Umum Ethiopia (NEBE) menyebut situasi di sana masih belum kondusif pasca perang saudara 2020-2022 yang memakan ratusan ribu korban jiwa.
Tak hanya Tigray, pemilu juga batal digelar di setidaknya delapan daerah pemilihan di wilayah Amhara. Di sana, kelompok bersenjata Fano terus menguasai sebagian besar pedesaan. Sementara di Oromia, pertempuran antara pemerintah dan kelompok separatis Oromo Liberation Army (OLA) masih terus menewaskan warga sipil.
Abiy, yang berusia 49 tahun, ingin memperkuat cengkeramannya di panggung politik nasional. Partainya, Prosperity Party, diyakini akan mendominasi parlemen melawan oposisi yang terpecah dan lemah akibat rivalitas internal. Hasil akhir pemilu dijadwalkan diumumkan pada 11 Juni mendatang.
Analisis Dampak: Pemilu yang tidak inklusif ini berpotensi memperdalam krisis legitimasi pemerintah. Ketidakstabilan di tiga wilayah besar (Tigray, Amhara, Oromia) mengancam target pertumbuhan ekonomi 10 persen yang dicanangkan Abiy. Investor asing juga akan wait and see karena risiko keamanan masih tinggi. Para pengamat mencatat, Abiy yang dulu dipuji karena reformasi dan memenangkan Nobel Perdamaian 2019, kini justru dituding membungkam kritik dan mengulangi pola represif rezim sebelumnya.