Suasana panas menyelimuti laga Real Madrid kontra Benfica di Liga Champions. Bintang Real Madrid, Vinicius Jr., kembali menjadi target dugaan rasisme, bahkan sampai membuat timnya walk out dari lapangan. Namun, yang lebih mengejutkan adalah komentar kontroversial dari pelatih Benfica, Jose Mourinho, yang justru menuai kecaman karena dianggap menyalahkan Vinicius atau membela pelaku rasisme.
Insiden ini terjadi pada menit ke-55 pertandingan leg pertama babak playoff Liga Champions di Estadio da Luz, markas Benfica. Vinicius Jr. baru saja mencetak gol indah yang membawa Real Madrid unggul 1-0. Namun, kegembiraannya berubah jadi ketegangan saat ia menerima kartu kuning karena selebrasi berlebihan, keputusan yang Vinicius sendiri bantah.
Setelah selebrasi itu, Vinicius berhadapan dengan pemain sayap Benfica asal Argentina, Gianluca Prestianni. Vinicius dan rekan setimnya menuding Prestianni mengucapkan makian bernada rasial sambil menutupi mulutnya dengan kaus. Insiden ini membuat wasit Francois Letexier menghentikan pertandingan selama 11 menit untuk mengaktifkan protokol anti-rasisme FIFA.
Tak lama setelah itu, skuad Real Madrid mengambil langkah berani dengan meninggalkan lapangan dan masuk ke ruang ganti selama 10 menit sebagai bentuk protes. Di tengah kekacauan, Vinicius juga terlibat adu mulut sengit dengan Jose Mourinho, pelatih Benfica yang juga mantan manajer Real Madrid.
Kontroversi Pernyataan Jose Mourinho
Alih-alih memberikan dukungan atau mengecam tindakan rasisme, pernyataan Mourinho setelah pertandingan justru memicu kecaman lebih lanjut. Mourinho mengaku mendengar versi berbeda dari Vinicius dan Prestianni, dan ingin bersikap "independen". Namun, ia kemudian melontarkan komentar yang mengesankan Vinicius sering "dikelilingi kontroversi" dan bahkan menyalahkan selebrasi golnya.
"Ada yang salah karena hal itu terjadi di setiap stadion," kata Mourinho, merujuk pada insiden yang melibatkan Vinicius. "Stadion di mana Vinicius bermain, selalu ada sesuatu yang terjadi."
Ketika ditanya apakah selebrasi Vinicius memprovokasi penonton, Mourinho menjawab, "Ya. Saya percaya begitu." Ia menambahkan bahwa selebrasi seharusnya dilakukan dengan hormat. Mourinho bahkan sempat mengatakan kepada Vinicius bahwa legenda Benfica, Eusebio, adalah seorang kulit hitam, mengisyaratkan bahwa klub tersebut tidak mungkin rasis.
Dampak dan Analisis Lebih Lanjut
Insiden ini menambah panjang daftar kasus rasisme yang menimpa Vinicius Jr. Sejak tahun 2022 saja, sudah ada 18 aduan hukum terkait perilaku rasisme yang menargetkannya. Ini menunjukkan masalah rasisme dalam sepak bola Eropa masih sangat kronis dan membutuhkan penanganan serius, bukan hanya insidentil.
Pernyataan Mourinho sangat disayangkan karena dianggap mengalihkan fokus dari tindakan rasisme itu sendiri ke perilaku korban, bahkan cenderung menyalahkan korban. Sikap ini berpotensi memperburuk situasi dan menghambat upaya pemberantasan rasisme di sepak bola. Sebagai figur berpengaruh, komentar Mourinho seharusnya lebih bijak dan mendukung korban, bukan malah mencari pembenaran atau menyalahkan selebrasi yang wajar dalam sepak bola.
FIFA dan UEFA sebagai federasi tertinggi perlu mengambil tindakan tegas dan konsisten, tidak hanya sekadar mengaktifkan protokol, tetapi juga memberikan sanksi yang jelas kepada klub dan individu yang terlibat dalam tindakan rasisme atau yang secara tidak langsung mendukungnya dengan pernyataan kontroversial. Kasus Vinicius Jr. adalah cerminan nyata bahwa masih banyak pekerjaan rumah untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang inklusif dan bebas dari diskriminasi.