Washington, DC ā Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa kesepakatan damai tahap pertama dengan Iran akan ditandatangani pada Minggu (15/6). Namun, klaim ini langsung dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran yang menyatakan tanggal penandatanganan belum ditentukan.
Trump, melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa setelah kesepakatan kerangka kerja ditandatangani, Selat Hormuzājalur vital pasokan minyak dunia yang diblokade Iranāakan segera dibuka kembali. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, juga mendukung pernyataan Trump dengan mengatakan bahwa finalisasi kesepakatan akan terjadi dalam 24 jam ke depan dan ditandatangani secara elektronik.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dengan tegas mengatakan bahwa penandatanganan tidak akan terjadi pada hari Minggu. āKemungkinan hal ini terjadi dalam beberapa hari ke depan tidak bisa dikesampingkan,ā ujarnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut terdiri dari 14 poin. Poin utamanya adalah pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan penghentian permusuhan di semua lini, termasuk Lebanon. Iran juga berkomitmen untuk tidak memulai perang atau menggunakan kekerasan.
Analisis Dampak: Perbedaan narasi antara Washington dan Teheran ini menciptakan ketidakpastian di pasar global. Jika kesepakatan benar-benar terealisasi, pembukaan kembali Selat Hormuz akan menstabilkan harga minyak dunia yang sempat melonjak akibat konflik. Namun, jika klaim Trump hanya taktik politik, ketegangan justru bisa meningkat. Media internasional seperti Al Jazeera melaporkan bahwa jadwal Trump pada hari Minggu tidak mencantumkan upacara penandatanganan virtual, menambah keraguan atas optimisme Gedung Putih.