Kasus hukum mengguncang Polandia! Dua mantan pimpinan badan intelijen negara itu, Piotr P dan Maciej Materka, kini berhadapan dengan tuntutan pidana serius. Keduanya didakwa karena diduga menyalahgunakan spyware canggih buatan Israel, Pegasus, yang berpotensi membahayakan informasi rahasia negara.
Kantor Kejaksaan Nasional Polandia mengumumkan dakwaan terhadap Piotr P, mantan kepala Badan Keamanan Internal (ABW), dan Maciej Materka, yang pernah memimpin Dinas Kontra Intelijen Militer (SKW). Mereka dituduh menggunakan perangkat lunak Pegasus tanpa akreditasi keamanan IT yang sah, bahkan saat mereka sadar akan risikonya membahayakan operasi lembaga, termasuk informasi 'rahasia' hingga 'sangat rahasia'. Akibat kelalaian tugas ini, masing-masing terancam hukuman penjara hingga tiga tahun.
Meski Materka sempat membela diri di media sosial X, mengklaim bahwa ia hanya menyediakan "alat terbaik" untuk para petugas dan semua aktivitas operasional dilakukan sesuai keputusan pengadilan, jaksa tetap pada dakwaannya. Keduanya menolak memberikan penjelasan saat diinterogasi. Kasus ini semakin panas mengingat mantan Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung Zbigniew Ziobro juga menghadapi dakwaan terpisah, termasuk dugaan penyalahgunaan dana korban kejahatan untuk membeli Pegasus demi memata-matai lawan politik. Ziobro terancam hukuman yang jauh lebih berat, hingga 25 tahun penjara.
Sebagai informasi, Pegasus adalah alat peretasan dan pengawasan super canggih yang dikembangkan oleh perusahaan siber Israel, NSO Group. Perangkat ini bisa menyusup ke ponsel target secara diam-diam, menyedot data pribadi, lokasi, bahkan mengaktifkan mikrofon dan kamera tanpa sepengetahuan pengguna. Data yang bisa diakses termasuk foto, riwayat pencarian web, kata sandi, log panggilan, komunikasi, hingga postingan media sosial. Di berbagai belahan dunia, Pegasus kerap dituduh disalahgunakan untuk memata-matai jurnalis dan aktivis, termasuk di Yordania dan Serbia.
Kasus di Polandia ini bukan sekadar pelanggaran hukum individu, melainkan sorotan tajam terhadap potensi penyalahgunaan teknologi mata-mata oleh negara. Peristiwa ini memicu pertanyaan serius tentang etika, privasi warga, dan batas kekuasaan di tubuh lembaga intelijen. Jika terbukti benar, penggunaan Pegasus seperti ini bisa merusak kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah dan menjadi preseden penting dalam upaya penegakan hukum terkait kejahatan siber di level tertinggi.