China tak henti mengejutkan dunia. Dalam perayaan Gala Imlek baru-baru ini, mereka sukses menampilkan aksi memukau dari puluhan robot humanoid yang seolah hidup. Bukan sekadar menari-nari sederhana, kali ini robot-robot tersebut pamer gerakan seni bela diri super canggih. Ada yang melakukan parkour lincah melewati rintangan meja, salto udara berkelanjutan, bahkan backflip sambil menempel di dinding, hingga gerakan Airflare grand spin 7.5 putaran yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ini jelas kemajuan drastis dibanding penampilan tahun lalu yang masih sebatas menggerakkan saputangan.
Di balik pertunjukan spektakuler ini, ada kolaborasi empat perusahaan teknologi raksasa China seperti Unitree dan Magiclab, dengan nilai investasi yang dilaporkan mencapai 100 juta yuan atau sekitar 14 juta dolar AS. Penampilan ini bukan cuma hiburan semata. Menurut Ramesh Srinivasan, seorang ahli kebijakan AI dari University of California (UCLA), Beijing secara gamblang mengirimkan 'pernyataan' tentang kemampuan teknologi mereka kepada seluruh dunia, khususnya Amerika Serikat.
Kemajuan pesat dalam robotika humanoid ini sangat strategis bagi China. Dengan populasi yang terus menurun, robot dipandang sebagai solusi jangka panjang untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri maupun pertanian. Perkembangan ini juga relevan dengan prediksi Elon Musk di Forum Ekonomi Dunia Davos beberapa waktu lalu. Musk yakin robot humanoid akan mulai dijual ke publik akhir tahun depan, bahkan suatu saat nanti jumlah robot bisa melebihi manusia.
Namun, terlepas dari segala kemajuan yang memukau, muncul pertanyaan penting: Apa jadinya jika AI mulai hadir dalam bentuk robot seperti ini? Srinivasan menyoroti potensi dampaknya bagi kelas pekerja secara ekonomi, bagaimana perannya di medan perang di masa depan, hingga dampaknya pada kehidupan pribadi, di mana robot bisa jadi terapis, pendamping, atau bahkan 'pasangan'.
Pertanyaan fundamentalnya adalah, 'Apakah kita benar-benar menginginkan semua ini?' dan 'Apa batasan yang pantas untuk robot humanoid dalam kehidupan kita?'. Srinivasan menekankan pentingnya kembali berinvestasi pada kondisi manusia dan memastikan setiap orang merasa aman dan terurus, bukan malah teralienasi oleh teknologi.