Prancis mengambil langkah tegas dengan melarang sepuluh aktivis anti-migran asal Inggris masuk ke wilayahnya. Kelompok yang menamakan diri "Raise the Colours" ini diduga kuat melakukan aksi provokatif, bahkan merusak perahu, di pesisir utara Prancis, memicu amarah Paris yang menekankan tak ada tempat bagi tindakan kekerasan atau kebencian.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mengumumkan pada Rabu (10/1) bahwa larangan tersebut dikeluarkan sehari sebelumnya, Selasa (9/1). Ini berarti sepuluh aktivis "Raise the Colours" kini dilarang memasuki dan tinggal di Prancis. Tindakan ini diambil setelah kementerian menerima laporan mengenai aktivitas kelompok tersebut yang mencari dan merusak perahu kecil, serta menyebarkan propaganda di sepanjang garis pantai utara Prancis.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menegaskan sikap pemerintahnya melalui media sosial. "Aturan hukum kami tidak bisa ditawar," tulis Nunez. "Tindakan kekerasan atau yang menghasut kebencian tidak punya tempat di wilayah kami." Meskipun nama kesepuluh aktivis tersebut belum dirilis secara resmi, keputusan ini menunjukkan keseriusan Prancis dalam menjaga ketertiban dan toleransi.
Larangan ini bukan tanpa alasan. Otoritas Prancis saat ini sedang menyelidiki dugaan penyerangan berat terhadap para migran yang terjadi pada September lalu di area pesisir dekat kota Dunkirk. Sebuah badan amal yang bekerja dengan migran melaporkan kepada kantor berita AFP bahwa pada malam 9-10 September, empat pria yang membawa bendera Inggris diduga menyerang secara verbal dan fisik sekelompok migran di Grand-Fort-Philippe. Mereka dilaporkan mengatakan kepada para migran bahwa mereka tidak diterima di Inggris.
Menanggapi larangan ini, "Raise the Colours" melalui pernyataan di platform X, membantah telah menerima pemberitahuan resmi dari otoritas Prancis. Mereka juga menegaskan bahwa aktivitas kelompok mereka selalu damai dan sesuai hukum, serta tidak mendukung kekerasan atau tindakan melanggar hukum lainnya.
Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya ketegangan terkait isu migrasi dari Prancis menuju Inggris melalui Selat Inggris. Kelompok-kelompok sayap kanan di Inggris kerap memanfaatkan isu ini untuk mendorong agenda anti-imigrasi yang garis keras. Data menunjukkan, pada tahun lalu, lebih dari 25.000 orang menyeberang ke Inggris melalui Selat Inggris pada paruh pertama tahun tersebut, menjadikannya laju penyeberangan tercepat sejak pencatatan dimulai tahun 2018. Secara total, lebih dari 41.000 orang menyeberang pada tahun 2023, meskipun jumlah ini sedikit menurun dari rekor 45.000 orang pada tahun 2022.