Ketegangan di Ukraina Timur makin memanas. Kementerian Pertahanan Rusia baru-baru ini mengumumkan telah berhasil menguasai penuh wilayah Luhansk, salah satu kunci area industri Donbas. Klaim ini langsung ditanggapi dengan tanpa komentar dari Kyiv, memicu pertanyaan besar soal nasib selanjutnya di medan perang.
Dalam pernyataan resmi Rabu kemarin, Moskow menyebut unit militer mereka berhasil 'membebaskan' Republik Rakyat Luhansk, sebutan Rusia untuk wilayah Ukraina itu. Ini menyusul upaya mereka merebut wilayah tersebut sejak invasi 2022. Tak hanya Luhansk, Rusia juga mengklaim telah menguasai desa Verkhnya Pysarivka di wilayah Kharkiv timur laut dan desa Boikove di Zaporizhia tenggara. Namun, hingga kini, Ukraina belum memberikan konfirmasi resmi atas klaim-klaim tersebut, membuat situasi di lapangan masih abu-abu.
Di sisi diplomatik, Kremlin melalui juru bicaranya, Dmitry Peskov, kembali mendesak agar pasukan Ukraina segera mundur dari seluruh wilayah Donetsk, yang selama ini menjadi bagian dari target utama Rusia di Donbas. Tentu saja, Kyiv berulang kali menolak permintaan itu. Peskov bahkan menyindir Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy seharusnya sudah menarik pasukannya 'kemarin' untuk mengakhiri 'fase panas' perang. Sebaliknya, Zelenskyy mengungkap bahwa Rusia disebut-sebut telah memberi ultimatum kepada Amerika Serikat: syarat perdamaian akan diperkeras jika Ukraina tak mundur dari Donbas dalam dua bulan. Zelenskyy sendiri terheran-heran bila ada yang percaya Rusia bisa menaklukkan sisa Donbas dalam waktu sesingkat itu. Ukraina memang menginginkan solusi diplomatik, namun menegaskan gencatan senjata hanya bisa disepakati pada garis depan saat ini.
Situasi di garis depan juga tak kalah genting. Serangan masif drone Rusia menggempur Ukraina semalam hingga Rabu pagi, dilaporkan menggunakan 339 drone 'Shahed' buatan Iran. Akibatnya, dua wanita tewas dalam serangan terhadap mobil sipil di wilayah Kherson. Gudang perusahaan pengiriman Nova Poshta di Lutsk, Ukraina barat, juga luluh lantak dilahap api dan asap tebal akibat serangan drone. Mirisnya, Zelenskyy menyoroti bagaimana Rusia membalas tawaran gencatan senjata Ukraina untuk Paskah dengan hujan drone.
Tak tinggal diam, Ukraina juga melancarkan serangan balasan. Drone-drone Ukraina pada Selasa lalu menghantam pelabuhan Ust-Luga di Laut Baltik Rusia untuk kelima kalinya dalam 10 hari. Serangan ini diyakini memperparah kesulitan Rusia dalam mengekspor minyak mentah, menunjukkan kemampuan Kyiv untuk menyerang balik target strategis musuh. Sementara itu, rencana pertemuan video Zelenskyy dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk membahas negosiasi dengan Rusia dikabarkan terhambat oleh situasi geopolitik yang sedang berlangsung, khususnya terkait konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel.
Klaim Rusia atas penguasaan penuh Luhansk, jika terkonfirmasi, akan menjadi kemenangan strategis besar bagi Moskow, memperkuat cengkeramannya di jantung industri Donbas. Namun, dengan penolakan keras Kyiv dan serangan balasan yang terus dilakukan, prospek perdamaian tampaknya masih jauh. Dampaknya jelas, warga sipil terus menjadi korban, infrastruktur hancur, dan ketidakpastian masa depan Ukraina masih membayangi. Dunia pun terus menanti langkah diplomatik yang bisa mengakhiri konflik berdarah ini.