UGANDA MEMANAS: PRESIDEN 81 TAHUN ENGGAN MUNDUR! - Berita Dunia
← Kembali

UGANDA MEMANAS: PRESIDEN 81 TAHUN ENGGAN MUNDUR!

Foto Berita

Kampala, Uganda – Suasana di Uganda sedang memanas menjelang pemilihan presiden yang penuh ketegangan. Presiden petahana, Yoweri Museveni, yang kini berusia 81 tahun dan telah berkuasa hampir empat dekade, kembali mencalonkan diri untuk periode ketujuh. Namun, langkah ini disambut dengan kemarahan, terutama dari kalangan pemuda yang merasa terpinggirkan dan jengah dengan kekuasaan yang tak kunjung berganti. Terlebih lagi, pemerintah mendadak mematikan akses internet, penjualan kartu SIM baru, dan layanan roaming, membuat warga, khususnya anak muda, makin frustrasi.

Kebijakan pemadaman internet ini sontak memicu amarah dan kekecewaan di jalanan ibu kota Kampala. Banyak anak muda sangat bergantung pada internet untuk bekerja, berkomunikasi, dan mencari peluang. Marvin Masole, seorang sarjana berusia 27 tahun, misalnya, sangat mengandalkan WhatsApp untuk urusan bisnis dan komunikasi. Setelah berulang kali gagal mencari pekerjaan, ia kini berencana mencari peruntungan di luar negeri. “Banyak dari kami memakai WhatsApp. Tanpa internet, kami jadi terhambat,” keluh Masole kepada Al Jazeera. “Ada banyak orang yang menghasilkan uang secara online. Saya rasa jika presiden kita lebih muda, ia tak akan mengizinkan internet dimatikan. Ia meminggirkan kami.”

Masole dan teman-temannya yang rata-rata berusia 20-an (yang tertua 37 tahun) berkumpul di sebuah kedai makanan di pusat kota Kampala, menikmati “Rolex” – hidangan populer berupa chapati gulung isi telur. Kondisi ini mencerminkan demografi nasional, di mana lebih dari 70 persen penduduk Uganda berusia di bawah 35 tahun. Ironisnya, selama puluhan tahun, suara dan keberadaan generasi muda ini belum terwakili di pucuk kekuasaan. Seumur hidup mereka, Masole dan teman-temannya hanya mengenal satu presiden: Yoweri Museveni.

Lebih dari 21,6 juta pemilih terdaftar akan memberikan suara pada pemilu yang jatuh hari Kamis ini. Bagi banyak pemuda Uganda, kebijakan Museveni terasa sangat terpisah dari realitas mereka, baik secara generasi maupun politik. Mereka adalah generasi yang terdidik, terhubung secara digital, namun menghadapi angka pengangguran yang tinggi. Mereka merasa suara mereka tidak diterjemahkan menjadi perubahan kekuasaan.

Namun, tidak semua pemuda memiliki pandangan yang sama. Scovia Tusabimana, misalnya, adalah pendukung setia Presiden Museveni dan kebijakannya. Ia percaya kepemimpinan Museveni telah membawa banyak manfaat bagi negara. “Saya berusia lima tahun saat Museveni berkuasa. Saya seorang yatim piatu dan tidak mampu bersekolah,” ujarnya kepada Al Jazeera. “Presiden memperkenalkan pendidikan dasar gratis. Ia juga membangun jalan dan rumah sakit.” Ketika ditanya soal pemadaman internet dan laporan kekerasan kampanye terhadap oposisi, ia menjawab, “Saya tidak senang dengan cara berbagai hal berlangsung, tapi saya yakin ada alasannya.”

Dalam skenario ideal, Masole berharap akan ada transfer kekuasaan yang damai dan harmonis setelah pemilu. Sayangnya, Uganda belum pernah merasakan serah terima kekuasaan yang damai sejak kemerdekaannya pada tahun 1962. Selama bertahun-tahun, pemilu di Uganda selalu diwarnai ketidakpastian dan ketegangan, seperti kekerasan terkait pemilu yang terjadi pada tahun 2021 lalu.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook