Dokumen yang baru saja dirilis Departemen Kehakiman AS membuka tabir baru soal Jeffrey Epstein, sosok pelaku kejahatan seks yang kontroversial. Kali ini, hubungannya dengan Mortimer Zuckerman, miliarder dan raja media-properti asal Kanada-Amerika, terkuak lebih dalam. Bukan sekadar rekan bisnis, Epstein ternyata pernah mendesak Zuckerman untuk menunjuk wali atau konservator atas aset-asetnya, dengan dalih adanya 'penurunan kognitif yang berpotensi membahayakan' pada diri sang miliarder.
Desakan ini bermula dari pertemuan pada Oktober 2015. Saat itu, Epstein mengklaim melihat adanya 'penurunan kognitif yang berpotensi membahayakan' pada diri Zuckerman, yang kini berusia 88 tahun. Dalam surelnya yang penuh salah ketik khasnya, Epstein menyatakan kekhawatiran serius akan keselamatan finansial, emosional, fisik, dan psikologis Zuckerman. Pemilik dan penerbit US News & World Report (serta mantan pemilik The Atlantic dan New York Daily News) itu, menurut Epstein, harus segera mempercayakan kendali urusan bisnisnya kepada Terje Rod-Larsen (diplomat Norwegia), keponakannya, atau pihak lain yang dipercaya. Epstein bahkan mengingatkan bahwa kemampuan luar biasa Zuckerman tidak lagi cukup untuk melindunginya dari risiko di masa depan.
Menariknya, Zuckerman sendiri, melalui balasan surelnya, tampak menanggapi serius saran Epstein. Ia sempat berterima kasih atas 'kepedulian dan persahabatan' Epstein, bahkan meminta rekomendasi pengacara yang berpengalaman dalam masalah perwalian. Namun, Epstein semakin agresif, menyarankan Zuckerman membatalkan perjalanan ke San Francisco karena ia berulang kali melupakan rencana tersebut. 'Mort, kamu butuh seorang wali. Pilihlah sekarang, selagi penilaianmu masih terlihat samar,' tulis Epstein, mengingatkan bahwa penundaan akan berujung pada penetapan wali oleh pengadilan, yang disebutnya 'tidak menyenangkan'.
Tidak hanya kepada Zuckerman, Epstein juga berkomunikasi dengan keponakan Zuckerman, Eric Gertler – yang kini menjabat ketua eksekutif US News & World Report. Epstein menasihati Gertler untuk mengawasi penjualan saham, koleksi seni, helikopter, dan pesawat milik pamannya. Ini jelas menunjukkan seberapa dalam dan personalnya intervensi Epstein dalam kehidupan seorang miliarder terkemuka.
Analisis Dampak: Jejak Manipulatif Epstein di Lingkaran Elit
Pelepasan dokumen ini mengejutkan publik karena menyoroti kedalaman hubungan Epstein dengan lingkaran elit, jauh melampaui sebatas 'rekan bisnis' yang sebelumnya diketahui. Detail baru ini mengungkap Epstein tidak hanya sebagai rekan bisnis, melainkan juga 'orang kepercayaan' yang memiliki akses ke detail paling intim dan krusial kehidupan seorang miliarder. Ini menegaskan kembali pola Epstein dalam membangun jaringan yang kompleks dengan individu berkuasa, memperlihatkan bagaimana ia mungkin menggunakan kelemahan atau kebutuhan orang lain untuk keuntungan pribadinya.
Peran Epstein sebagai penasihat dalam urusan keuangan dan personal yang sangat sensitif ini, terutama dengan latar belakangnya sebagai pelaku kejahatan seks, menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif dan potensi manipulasi. Apakah desakan ini murni upaya tulus untuk membantu, atau justru strategi licik untuk mendapatkan kendali atas kekayaan dan informasi sensitif? Kasus ini semakin memperjelas kemampuan Epstein menembus dan memengaruhi tokoh-tokoh kuat, serta menambah lapisan baru pada pemahaman kita tentang jaringan gelap Jeffrey Epstein yang luas dan meresahkan.